Rabu, 31 Juli 2019

A. Kajian tentang Manajemen Kelas

            Kegiatan belajar dan pembelajaran banyak dilaksanakan didalam kelas dalam arti ruangan. Namun perlu ditekankan disini bahwa adalah keliru jika kelas hanya diartikan sebagai ruangan, karena kelas
sebagaimana dikemukakan oleh Oemar Hamalik, bahwa kelas adalah sekelompok siswa yang secara bersama-sama melakukan kegiatan belajar dan pembelajaran dengan dibimbing oleh seorang guru. Oleh sebab itu guru perlu memahami berbagai aspek serta berbagai teknik dalam melaksanakan tata kelola kelas guna mendukung terciptanya belajar dan pembelajaran secara kondusif dan menyenangkan bagi keberhasilan siswa menguasai kompetensi yang akan dimilikinya.

1. Pengertian Manajemen Kelas

       Guru memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas merupakan salah satu aspek pembelajaran yang harus dikuasai guru agar siswa
dapat belajar dengan optimal. Pengelolaan kelas yang baik akan membuat suasana kelas menjadi kondusif untuk proses belajar mengajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Mendukung
hal itu Mulyadi mengemukakan manajemen kelas adalah: “Seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan
hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan
organisasi kelas yang efektif dan produktif.”

   2.Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah kelola ditambah awal pe dan akhir an. Istilah lain dari kata pengelolaan adalah manajemen. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa inggris Management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. Manajemen atau pengelolaan dalam pengertian umum menurut Suharsimi Arikunto adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas menurut Oemar Hamalik adalah suatu
kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru. Menurut Suharsimi Arikunto kelas adalah sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran
yang sama dari guru yang sama.
Kelas sebagai lingkungan belajar siswa merupakan aspek dari lingkungan yang harus diorganisasikan dan dikelola secara sistematis.
Lingkungan ini harus diawali agar kegiatan belajar mengajar bisa
terarah dan menuju pada sasaran yang dikehendaki. Adapun karakteristik lingkungan yang baik itu diantaranya adalah kelas memiliki sifat merangsang dan menantang siswa untuk selalu belajar,
memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapaitujuan belajar.

3. Tujuan Manajemen Kelas
       
          Tugas guru yang utama dalam pembelajaran adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi belajar
mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, guru dan wali kelas dituntut memiliki kemampuan yang inovatif dalam mengelola kelas. Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan
dapat tercipta kondisi kelompok belajar yang proporsional terdiri dari lingkungan kelas yang baik yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki serta tersedia kesempatan untuk
mengurangi ketergantungan pada guru.
Menurut Sudirman yang di ambil dari bukunya Syaiful Bahri
Djamarah menyatakan bahwa:
“Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan
kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional,
dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya
suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosionaal dan sikap serta
apresiasi pada siswa”.
Tujuan pengelolaan kelas secara umum menurut Usman yang diambil dari bukunya Sulistiyorini adalah: “Mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan
alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa belajar dan bekerja serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan”.
Tujuan manajemen kelas atau pengelolaan kelas, menurut Mulyadi adalah sebagai berikut:
a) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, sebagai lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan mereka semaksimal mungkin.
b) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
c) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta media pembelajaran yang mendukung dan memungkinka peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, danbintelektual mereka dalam kelas.
d) Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar
belakang sosial, ekonomi, budaya dan sifat-sifatindividunya.
Secara lebih khusus Syaiful Bahri Djamarah mengungkapkan tujuan manajemen kelas sebagai berikut:
a) Untuk peserta didik
 Mendorong peserta didikmengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhanuntuk mengontrol diri.
 Membantu peserta didik mengetahui perilaku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami jika teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan
kemarahan.
 Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas dan pada kegiatan yang diadakan
b) Untuk guru
 Mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaaan yang lancer dan kecepatan yang
tepat.
 Menyadari kebutuhan anak didik dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk secara jelas kepada anak didik.
 Mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku anak didik yang mengganggu.
 Memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif dapat digunakan dalam hubungannya dengan masalah tingkah laku anak didik yang muncul dalam kelas.
Sebagai guru hendaknya mampu menggunakan dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki hingga memungkinkan terciptanya situasi belajar yang baik, dan dapat mengendalikan
pelaksanaan pengajaran dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
Selain itu kelas yang dikelola dengan baik akan membuat siswa sibuk dengan tugas yang menantang, memberikan pemahaman siswa terhadap materi belajar, merasa aman dan nyaman ketika berada dalam
kelas dan terciptanya disiplin kelas, yang memungkinkan untuk mencegah permasalahan yang timbul di dalam pembelajaran di kelas.
Pengertian prosedur manajemen kelas sukar dipisahkan dengan pengertian manajemen kelas. Karena manajemen kelas adalah pekerjaannya, sedangkan prosedur manajemen kelas adalah langkahlangkah bagaimana pekerjaan itu di kerjakan.

23 Mulyadi, Classroom Managemen ..., hal. 18
40
Dengan demikian maka prosedur manajemen kelas merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk melakukan pekerjaan manajemen kelas itu dengan baik. Hal ini mengandung pengertian bahwa langkah-langkah yang akan diambil itu harus didahului dengan suatu pertimbangan yang matang setelah itu mulai merencanakan serta merumuskan langkah-langkah yang dilaksanakan.
Adapun prosedur manajemen kelas dapat dikategorikan menjadi dua,
yaitu:
a. Prosedur manajemen kelas dimensi pencegahan.
Dimensi proses pencegahan merupakan langkah-langkah yang harus diambil oleh guru dalam rangka mengatur siswa,
fasilitas, atau format belajar mengajar yang tepat yang mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar. Langkag-langkah
prosedur manajemen kelas dimensi pencegahan adalah sebagai berikut:
1) Peningkatan kesadaran diri sebagai guru. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru merupakan langkah strategis karena akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan tugasnya.
2) Peningkatan kesadaran tanggung jawab siswa. Untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa perlu diberikan pengertian tentang kewajiban dan hak-haknya sebagai anggota kelompok/kelas. Saling pengertian akan meningkatkan kerjasama antara guru dan siswa.
3) Sikap tulus dari guru. Guru perlu bersikap dan bertindak secara wajar, tulus dan tidak pura-pura terhadap siswa.
Karena sikap dan tindakan demikian sangat membantu dalam manajemen kelas.
4) Mengeal dan menentukan alternatif manajemen. Guru harus mengetahui pendekatan dalam manajemen kelas, sehingga guru bisa menggunakan pendekatan manajemen kelas yang
tepat untuk mengatasi problem di kelas.
5) Membuat kontak sosial. Langkah ini berhubungan enggan masalah nilai dan norma. Norma berupa kontak sosial atau
peraturan/tata tertib merupakan standar tingkah laku yang diharapkan dan memberikan gambaran tentang fasilitas
beserta keterbatasannya untuk memenuhi kebutuhan siswa.

     4. Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatakan Proses Belajar

1. Bagaimana strategi guru dalam menyusun rencana pembelajaran?
Strategi menyusun rencana pembelajaran adalah sebagai berikut Kepala sekolah melalui kebijakan yang dituangkan dalam tugas guru, mewajibkan para guru
untuk membuat program mengajar yang berupa: silabus, Analisa Materi Pelajaran,
Program tahunan, Program Semester, dan Rencana Program Pembelajaran.
Pembuatan program pembelajaran disusun secara bersama-sama melalui pertemuan
Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang ada di lingkungan sekolah yang selanjutnya
dimantabkan melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat
Kabupaten. Selanjutnya perangkat mengajar diserahkan kepada wakil kepala
sekolah bidang kurikulum untuk dikoreksi dan ditanda tangani oleh kepala sekolah.
Pada saat mengajar, para guru selalu membawa perangkat pembelajaran dengan
maksud agar proses belajar mengajar berjalan dengan terarah, dan tujuan yang
dirumuskan dalam program bisa tercapai. Dan bila selesai mengajar perangkat
mengajar disimpan di almari guru masing-masing yang telah disediakan oleh
sekolah, dengan demikian bila diperlukan perangkat mengajar sudah ada di sekolah
dan terjaga keamanannya.
Bagaimana strategi guru dalam membangun kerjasama dengan siswa dalam proses belajar mengajar?
Kegiatan guru yang profesional merupakan kegiatan atau tugas guru yang
rutin yang dianggap sebagai salah satu cara untuk meningkatkan profesionalismenya. Dalam menjalin kerjasama dengan siswa, strategi yang diterapkan oleh guru SMA adalah sebagai berikut:
(a) menjalin hubungan baik dengan siswa, (b) berusaha memahami latar belakang siswa,
(c) penguasaan materi dan cara penyajiannya menarik,
(d)penggunaan model mengajar yang bervariasi dan
(e) memberi pembinaan khusus bagi siswa bermasalah.
Pengembangan sekolah memiliki arti tersendiri bagi sekolah , sehingga
sekolah tidak hanya menjalin kerjasama dengan siswa saja, tetapi sekolah juga
menjalin kerjasama dengan orang tua/wali, perguruan tinggi, instansi pemerintah
dan alumni. Adapun bentuk kerjasamanya adalah sebagai berikut: pengadaan sarana
dan fasilitas sekolah, rekrutmen calon mahasiswa, penyaluran bakat dan minat siswa melalui kegiatan ektrakurikuler dan pengadaan pembina ekstra kurikuler. Kerjasama dalam hal ini, tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di kelas saja, melainkan melalui kegiatan sekolah secara keseluruhan yang mengarah pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa.
3. Bagaimana Pemberian Motivasi belajar terhadap siswa
Pemberian motivasi terhadap siswa adalah sebagai berikut: (a) khususnya
siswa kelas tiga selalu diberi latihan-latihan soal, (b) pemberian tugas untuk praktek
lapangan, (c) mengikut sertakan siswa dalam kegiatan ilmiah, (d)
mengkomunikasikan hasil belajar siswamelalui papan pengumuman maupun
melalui pertemuan dengan orang tua, (e) pemberian reinforcement, (f) penggunaan
media dalam pembelajaran dan (g) pemberian layanan bimbingan. Dengan
pemberian motivasi dalam bentuk pemberian tugas pada siswa, hasilnya efektif sekali karena dengan strategi tersebut mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
4. Bagaimana strategi dalam menciptaan Iklim Pembelajaran Agar pelaksanaan pembelajaran di kelas berlangsung dengan lancar dan efektif, maka pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, staf dan guru melakukan upaya berupa: (a) petugas tatib selalu mengantisipasi berkeliling di lingkungan sekolah untuk mengontrol tempat-tempat yang rawan, (b) waka kesiswaan mengadakan razia di dalam kelas dengan dibantu petugas tatib dan guru pembimbing, (c) dalam mengajar guru berusaha memahami karakter siswa, (d) guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (e) guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya tentang kesulitan pelajaran atau masalah lainnya, dan (f) guru berusaha menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari pelajaran eksak. Dengan strategi seperti diatas, maka iklim di lingkungan SMA,
memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa merasa senang dan betah berada di sekolah selama jam efektif kegiatan belajar mengajar, bahkan hingga sore hari untuk mengikuti kegiatan tambahan.
5. Bagaimana Upaya dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa Karakteristik SMA yang baik adalah semua warganya mulai dari pimpinan sekolah, guru, karyawan dan siswanya memiliki budaya disiplin yang tinggi. Namun demikian pihak sekolah tetap mempertahankan serta melestarikan budaya disiplin yang sudah bagus ini untuk ditingkatkan menjadi menjadi kultur disiplin yang mandiri. Adapun strategi untuk meningkatkan disiplin, sebagai berikut: (a) sekolah memiliki sistem pengendalian ketertiban yang dikelola dengan baik, (b) adanya keteladanan disiplin dalam sikap dan prilaku mulai dari pimpinan sekolah, guru dan karyawan, (c) mewajibkan siswa baru untuk mengikuti ekstrakurikuler Pramuka, (d) pada awal masuk sekolah guru bersama siswa membuat kesepakatan tentang aturan
kelas, (e) memperkecil kesempatan siswa untuk ijin meninggalkan kelas, (f) setiap
upacara hari senin diumumkan frekuensi pelanggaran terendah. Dengan strategi
tersebut diatas kultur disiplin siswa bisa terpelihara dengan baik, suasana
lingkungan belajar aman dan terkendali sehingga siswa bisa mencapai prestasi
belajar yang optimal.
6. Bagaimana pelaksanaan Evaluasi Proses Belajar Mengajar Evaluasi dalam pembelajaran di SMA ada dua macam yaitu: (1) penilaian terhadap hasil belajar siswa, (2) penilaian terhadap proses pengajaran.
Penilaian terhadap hasil belajar siswa baik dari ulangan harian, ulangan
semester, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional menunjukkan hasil yang
memuaskan, berdasarkan data perolehan ulangan semester, perolehan Ujian Akhir
Sekolah dan Ujian Akhir Nasional, penilaian terhadap proses pengajaran, berdasarkan hasil wawancara, observasi peneliti dan supervisi kepala sekolah, bahwa kompetensi guru dalam pembelajaran di kelas sudah bagus sekali, bahkan guru senior selalu menularkan etos kerja yang bagus, baik dalam melaksanakan tugas mengajarnya, tugas
mengadministrasi hasil mengajar, maupun tugas tambahan dari sekolah.

Senin, 29 Juli 2019

Konsep Manajemen Pembelajaran

A. Konsep Manajemen pembelajaran

        Proses pembelajaran sangat terkait dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Antara komponen yang satu dengan komponen lainnya memiliki hubungan yang bersifat sistematik, maksudnya masingmasing komponen memiliki peranan sendiri-sendiri tetapi memiliki hubungan yang saling terkait. Masing-masing komponen dalam proses pembelajaran perlu dikelola secara baik.       Tujuannya agar masing-masing komponen tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini akan terwujud, jika guru sebagai desainer pembelajaran memiliki kompetensi manajemen pembelajaran. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto mengungkapkan bahwa manajemenadalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien1 . Manajemen juga diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien2 . Jadi, manajemen merupakan serangkaian proses yang dilaksanakan dalam sebuah kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan diharapkan.

       Dalam dunia pendidikan manajemen pembelajaran menduduki peranan yang sangat penting. Karena, pada dasarnya manajemen pembelajaran ialah pengaturan semua kegiatan pembelajaran yang dikategorikan dalam kurikulum inti mapun penunjang. Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu.1 Secara etimologis , kata manajemen merupakan terjemahan dari management. Kata management sendiri berasal dari kata manage atau magiare yang berarti melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Dalam pengertian manajemen, terkandung dua kegiatan ialah kegiatan berpikir (mind) dan kegiatan tingkah laku (action). 2 Pengertian manajemen menurut para pakar manajemen diantaranya:3 Harold Koonts dan Cyril O’Donel, manajemen adalah usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.
    Dengan demikian Manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktifitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan, dan pengendalian. Sedangkan menurut H. Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan menurut Prayudi bahwa manajemen adalah pengendalian dan pemanfaatan dari pada semua faktor dan sumber daya yang menurut suatu perencanaan (planning) diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan kerja tertentu.
        Jadi, manajemen adalah suatu proses yang dilakukan agar suatu usaha dapat berjalan denga baik memerlukan perencanaan, pemikiran, pengaraha, dan pengaturan serta mempergunakan atau mengikutsertaan semua potensi yang ada baik personal maupun material secara efektif dan efesien. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada proses pembelajaran yang baik. Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar 14 dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Sedangkan menurut Corey: “Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.”

     Dalam pengertian demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar. Kegiatan ini akan mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara lebih efektif dan efisien. Menurut Hamzah B. Uno pembelajaran (learning) adalah suatu kegiatan yang berupaya membelajarkan siswa secara terintegrasi dengan memperhitungkan faktor lingkungan belajarnya, karakteristik siswa, karakteristik bidang studi serta berbagai strategi pembelajaran baik penyampaian, pengelolaan maupun pengorganisasian pembelajaran.5 Pembelajaran merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia yang harus dilakukan secara terus menerus selama manusia hidup. Isi dan proses pembelajaran perlu terus dimutakhirkan sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan masyarakat. Implikasinya jika masyarakat Indonesia dan dunia menghendaki tersediannya sumber daya manusia yang memiliki kompetesi yang berstandar nasional dan internasional, maka isi dan proses pembelajaran harus diarahkan pada pencapaian kompetensi tersebut.6 Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Pembelajaran merupakan perbuatan yang kompleks. Artinya, kegiatan pembelajaran melibatkan banyak komponen dan faktor yang perlu dipertimbangkan. Untuk itu perencanaan maupun pelaksanaan kegiatannya membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijak. Seorang guru dituntut untuk bisa menyesuaikan karakteristik siswa, kurikulum yang sedang berlaku, kondisi kultural, fasilitas yang tersedia dengan strategi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa agar tujuan dapat dicapai. Strategi sangat penting bagi guru karena sangat berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.


B. Tujuan Menajemen Pembelajaran

       Tujuan manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karen manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Apabila dikaitkan dengan pengertian manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat mencapai tujuan. Adapun tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Tujuan pokok mempelajari manajemen pembelajaran adalah untuk memperoleh cara, teknik dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Secara rinci tujuan manajemen pendidikan antara lain:

a). Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan             menyenangkan (PAIKEM).

b) Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan            spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,  ketrampilan yang       diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

c) Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

d) Terbekalinya tenaga pendidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan.

e) Teratasinya masalah mutu pendidikan.


C.  Peran Guru Dalam Manajemen Kelas

   Guru memiliki peran sebagai salah satu unsur pengelola pendidikan pada suatu lembaga pendidikan yang terlihat langsung dalam mentransfer pengetahuan kepada siswa, harus mampu mengelola kelasnya, merumuskan tujuan pembelajaran secara opersional, menentukan materi pembelajaran, menetapkan metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar dan kemampuan profesional guru lainnya, agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Peran dan fungsi guru berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah. Di antara peran dan fungsi guru tersebut adalah sebagai berikut:

Guru sebagai Pendidik Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memilki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.
Guru sebagai Pengajar Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhin oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru,kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam ber komunukasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu: Membuat ilustrasi, Mendefenisikan, Menganalisis, 22 Pandangan yang bervariasi, Menyediakan media untuk mengkaji materi standar, Menyesuaikan metode pembelajaran, Memberikan nada perasaan. Agar pembelajaran memilki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar.
Guru sebagai Pembimbing Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamanya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Guru sebagai Pelatih Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam 23 kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.
Guru sebagai Penasehat Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memilki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.
Guru sebagai Pembaharu (Inovator) Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memilki arti lebih banyak daripada nenek kitea. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antar generasi tua dan generasi muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.
Guru sebagai Model dan Teladan Guru merupakan model atau teladan bagi peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untu ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teldan. Tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru: sikap dasar, bicara dan gaya bicara, kebiasaan bekerja, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan kemanusiaan, proses berfikir, perilaku neurotis, selera, keputusan, kesehatan gaya hidup secara umum. Perilaku guru sangat mempengaruhi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri.
Guru sebagai Pribadi Guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka dengan cara yang tepat disikapi sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat yang berakibat tergangunya proses pendidikan bagi 25 peserta didik. Guru perlu juga memilki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melaluin kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olahraga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimilki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.
Guru sebagai Peneliti Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaanya memerlukan penyesuain-penyesuain dengan kondisi lingkungan. Untuk itu perlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Menyadari akan kekurangannya guru berusaha mencari apa yang belum diketahuai untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Sebagai orang yang telah mengenal metodologi tentunya ia tahu pula apa yang harus dikerjakan, yakni penelitian.
Guru sebagai Pendorong Kreatifitas Kreatifitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mende akan monstrasikan dan menunjukkan kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia disekitar kita. Kreatifitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilainya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu 26 secara rutin saja. Kreatifitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.
Guru sebagai pembangkit pandangan Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada peserta didiknya. Mengembangkan fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
Guru sebagai Pemindah kemah Hidup ini selalu berubah dan guru adalah seorang pemindah kemah, yang suka memindah–mindahkan dan membantu peserta didik dalam meninggalkan hal lama menuju sesuatu yang baru yang bisa mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaaan yang menghalangi kemajuan serta membantu menjauhi dan meninggalkannya untuk mendapatkannya untuk mendapatkan cara-cara baru yang lebih sesuai. Guru harus memahami hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi peserta didiknya.
Guru sebagai Pembawa Cerita Sudah menjadi sifat manusia untuk mengenal diri dan menanyakan keberadaanny serta bagaimana berhubungan dengan keberadaaanya itu. Tidak mungkin bagi manusia hanya muncul dalam lingkungannya dan berhubungan dengan lingkungan, tanpa mengetahui asal usulnya. Semua itu diperoleh melalui cerita. Guru tidak takut menjadi alat menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan, karena ia tahu sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia. Cerita ini adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain, yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka. Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
Guru sebagai Aktor Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan, melainkan juga tentang kepribadian manusia sehingga mampu memahami respon-respon pendengarnya, dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga dapat dikontrol. Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan kegiatannya.
Guru sebagai Emansipator Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan dan dari 28 perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.
Guru sebagai Evaluator Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta varible lain yang mempunyai arti apabila berhubungan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut serta penilaian harus adil dan objektif.


Daftar Rujukan

Nanang Fattah. 2001. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ricky W. Griffin. 2004. Manajemen, alih bahasa Gina Gania;editor Wisnu Candra Kristiaji. Jakarta: Erlangga
Syafaruddin. 2005 . Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Cet.1 . Jakarta: Ciputat Press.



Tugas 14 Konsep Dasar Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

A.     Konsep Dasar Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat Secara etimologis hubungan masyarakat diterjemahkan dari perkataan bahasa Inggris “...