A. Konsep Dasar Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Secara etimologis hubungan masyarakat diterjemahkan dari perkataan bahasa Inggris “public relation” yang berarti hubungan sekolah dengan masyarakat ialah sebagai hubungan timbal balik antar suatu organisasi (sekolah) dengan masyarakatnya.
Pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilihat dari beberapa definisi berikut ini. Menurut Kindred Leslia, dalam bukunya “School Public Relation” mengemukakan pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut : hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat untuk berusaha menanamkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dari karya pendidikan serta pendorong minat dan tanggung jawab masyarakat dalam usaha memajukan sekolah.
Selanjutnya Onong U. Effendi dalam bukunya Human Relations and Public Relations dalam Management (1973:55) mengemukakan bahwa Public Relations adalah kegiatan berencana untuk menciptakan, membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi organisasi di satu pihak dan publik di lain pihak. Untuk mencapainya adalah dengan jalan komunikasi yang baik dan luas secara timbal balik.[1]
Pada hakikatnya sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat, khususnya masyarakat publiknya, seperti para orang tua murid atau anggota badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) dan atasan langsungnya.
Demikian pula hasil pendidikan pelaksanaan sekolah akan menjadi harapan bahkan dambaan masyarakat. Maka kegiatan-kegiatan sekolah juga harus terpadu dengan derap masyarakat, tak boleh sekolah itu merupakan “menara gading” bagi masyarakatnya.[2]
B. Pentingnya Hubungan Sekolah Dan Masyarakat
Beberapa pandangan filosofis tentang hakikat sekolah masyarakat, dan bagaimana hubungan antara keduanya.
1. Sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat, ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat.
2. Hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat.
3. Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
4. Kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat saling berkolerasi, keduanya saling membutuhkan.
5. Masyarakat adalah pemilik sekolah. Sekolah ada karena masyarakat memerlukannya.[3]
Betapa pentingnya hubungan sekolah dan masyarakat itu, terutama di negara kita, dapat pula ditinjau dari sudut historis, sebagai berikut :
1. Dari sejarah, kita mengetahui bahwa pada zaman kolonial Belanda dahulu, sekolah- sekolah diisolasikan dari kehidupan masyarakat sekitar.
2. Dan zaman kemerdekaan ini, sekolah merupakan lembaga pendidikan yang seharusnya mendidik generasi muda untuk hidup di masyarakat kelak nanti.
3. Sekolah haruslah merupakan tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan dan kebudayaan yang sesuai dan dikehendaki oleh masyarakat tempat sekolah itu didirikan.
4. Sebaliknya, masyarakat harus dan wajib membantu dan bekerja sama dengan sekolah agar apa yang diolah dan dihasilkan sekolah sesuai dengan apa yang dikehendaki dan dibutuhkan oleh masyarakat.
5. Dari sejarah pendidikan kita mengenal adanya arbeid school (sekolah kerja) seperti yang didirikan oleh Ovide Decroly di Belgia, sekolah kerja yang didirikan oleh Kerschensteiner di Jerman, dan oleh John Dewey di Amerika Serikat. Semua ini merupaka usaha para ahli didik yang menunjukkan kepada kita betapa pentingnya sekolah itu berintegrasi dengan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang menuju kemajuan.
6. Pentingnya hubungan sekolah dengan masyarakat dapat pula dikaitkan dengan semakin banyaknya isu yang berupa kritik- kritik dari masyarakat tentang tidak sesuainya produk sekolah dengan kebutuhan pembangunan, bahwa lulusan sekolah merupakan produk yang tidak siap pakai, semakin membengkaknya jumlah anak putus sekolah, makin banyak pengangguran, dan sebagainya. Meskipun hal-hal tersebut merupakan masalah yang kompleks dan untuk memecahkan masalah-masalah itu bukan semata-mata merupakan tanggung jawab sekolah, dengan meningkatkan keefektifan hubungan sekolah dan masyarakat maka beberapa masalah tersebut dapat terkurangi.[4]
C. Prinsip- prinsip dan Metode dalam Membina Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Adapun prinsip- prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut :
1. Kerjasama harus dimodali dengan iktikad baik untuk menciptakan citra baik tentang pendidikan.
2. Pihak awam dalam berperan serta membantu dan merealisasikan program sekolah, hendaknya menghormati dan menaati ketentuan/ peraturan yang diberlakukan di sekolah.
3. Berkaitan dengan prinsip dan teknis edukatif, sekolahlah yang lebih berkewajiban dan lebih berhak menanganinya.
4. Segala saran yang berkaitan dengan kepentingan sekolah harus disalurkan melalui lembaga resmi yang bertanggung jawab dalam melaksanakannya.
5. Partisipasi/ peran serta masyarakat tidak saja dalam bentuk gagasan/ usul/ saran tetapi juga berikut organisasi dan kepengurusannya yang dirasakan benar-benar bermanfaat bagi kemajuan sekolah.
6. Peran serta masyarakat tidak dibatasi oleh jenjang pendidikan tertentu, sepanjang tidak mencampuri teknis edukatif/ akademis.
7. Peran serta masyarakat akan bersifat konstruktif, apabila mereka sebagai awam diberi kesempatan mempelajari dan memahami permasalahan serta cara pemecahannya bagi kepentingan dan kemajuan sekolah.
8. Supaya sukses dalam “saling berperan serta”, haruslah dipahami betul nilai, cara kerja dan pola hidup yang ada dalam masyarakat.
9. Kerjasama harus berkembang secara wajar, diawali dari yang paling sederhana, berkembang hingga hal-hal yang lebih besar.
10. Efektifitas keikutsertaan para awam perlu dibina hingga layak dalam mengembangkan gagasan/ penemuan, saran, kritik sampai pada usaha pemecahan dan pencapaian keberhasilan bagi kemajuan sekolah.[5]
D. Tujuan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Mengenai tujuan, menurut T. Sianipar dapat ditinjau dari sudut kepentingan kedua lembaga tersebut, yaitu kepentingan sekolah dan kepentingan masyarakat.
Ditinjau dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan hubungan sekolah dan masyarakat bertujuan untuk:
1. Memelihara kelangsungan hidup sekolah.
2. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
3. Memperlancar proses belajar mengajar.
4. Memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
Sedangkan ditinjau dari kebutuhan masyarakat itu sendiri, tujuan hubungannya dengan sekolah adalah untuk :
1. Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam bidang mental-spiritual.
2. Memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
3. Menjamin relevensi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat.
4. Memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.
Secara lebih kongkrit lagi, tujuan diselenggarakan hubungan sekolah dan masyarakat adalah :
1. Mengenalkan pentingnya sekolah kepada masyarakat.
2. Mendapatkan dukungan dan bantuan moral maupun finansial yang diperlukan bagi pengembangan sekolah.
3. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanaan program sekolah.
4. Memperkaya atau memperluas program sekolah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
5. Mengembangkan kerjasama yang lebih erat antara keluarga dan sekolah dalam mendidik anak- anak.[6]
Sedangkan Elsbree mengemukakan tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah :
1. Untuk meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak.
2. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
3. Untuk mengembangkan antusiasme/ semangat saling bantu antara sekolah dengan masyarakat demi kemajuan kedua belah pihak.
Ketiga tujuan tersebut menggambarkan adanya “two way trafic” atau dua arus komunikasi yang saling timbal balik antara sekolah dengan masyarakat. Hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan baik apabila terjadi kesepakatan antara sekolah dengan masyarakat tentang “policy”(kebijakan), perencanaan program dan strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah. Dengan demikian tidak lagi ada “barrier” (penghalang) dalam melaksanakan program hubungan sekolah dengan masyarakat.[7]
DAFTAR PUSTAKA
Kuswara, Deni. Pengelolaan Pendidikan. Bandung : UPI Press, 2007.
Gunawan, Ari. Administrasi Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.
Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2013/10/hubungan-sekolah-dengan-masyarakat.html
Jumat, 30 Agustus 2019
Tugas 13 Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan
Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan
A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN
Dryden dan Voss (1999) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya dan memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak disertai suasana tegang sangat baik dan mendukung untuk membangkitkan motivasi belajar. Anak-anak pada dasarnya belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan. Artinya belajar paling efektif jika dilakukan secara aktif oleh individu tersebut.
Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.
Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa dan juga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga memberikan kreatifitas siswa untuk mampu belajar dengan potensi yang sudah mereka miliki yaitu dengan memberikan kebebasan dalam melaksanakan pembelajaran dengan cara belajarnya sendiri.
Salah satu hal yang harus dikedepankan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan adalah menyertakan partisipasi siswa di dalam kelaS.Selain untuk membangun komunikasi dengan siswa, pengajar juga dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan bagi para siswa. Jika situasi ini tak terbangun, bisa jadi siswa akan merasa canggung berbicara dengan guru dan komunikasi tidak akan berjalan baik. Akibatnya, pengajar juga akan mengalami kesulitan untuk mengetahui apa yang menjadi keinginan siswa.
B. MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN BAGI SISWA
Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya ruang belajar harus bersih, tidak ada bau-bauan yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, ruangan cukup terang, tidak gelap dan tidak mengganggu mata, sarana yang diperlukan dalam belajar yang cukup atau lengkap. Dalam mewujudkan kondisi pembelajaran yang efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:
1. Melibatkan Siswa secara Aktif
Aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, antara lain:
a. Aktivitas visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen.
b. Aktivitas lisan, seperti bercerita, tanya jawab.
c. Aktivitas mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru, mendengarkan pengarahan guru.
d. Aktivitas gerak, seperti melakukan praktek di tempat praktek.
e. Aktivitas menulis, seperti mengarang, membuat surat, membuat karya tulis.
Aktivitas kegiatan pembelajaran siswa di kelas hendaknya lebih banyak melibatkan siswa, atau lebih memperhatikan aktivitas siswa. Berikut ini cara meningkatkan keterlibatan siswa :
1. Tingkatkan partisifasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai teknik mengajar.
2. Berikanlah materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.
3. Usahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa. Untuk itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkannya dengan bahan pembelajaran.
2. Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar.
Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran erat kaitannya dengan sifat, bakat dan kecerdasan siswa. Pembelajaran yang dapat menyesuaikan sifat, bakat dan kecerdasan siswa merupakan pembelajaran yang diminati.
3. Membangkitkan Motivasi Siswa
Motif adalah semacam daya yang terdapat dalam diri seseorang yang dapat mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedang motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Tugas guru adalah bagaimana membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar. Berikut ini beberapa cara bagaimana membangkitkan motivasi siswa :
a) Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya;
b) Pada awal kegiatan pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, sehingga siswa terpancing untuk ikut serta didalam mencapai tujuan tersebut.
c) Guru berusaha mendorong siswa dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
d) Guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usahanya sendiri;
e) Guru selalu berusaha menarik minat belajar siswa.
f) Sering-seringlah memberikan tugas dan memberikan nilai seobyektif mungkin.
4. Memberikan pelayanan individu Siswa
Perlunya keterampilan guru di dalam memberikan variasi pembelajaran agar dapat diserap oleh semua siswa dalam berbagai tingkatan kemampuan, dan disini pulalah perlu adanya pelayanan individu siswa.
Memberikan pelayanan individual siswa bukanlah semata-mata ditujuan kepada siswa secara perorangan saja, melainkan dapat juga ditujukan kepada sekelompok siswa dalam satu kelas tertentu. Sistem pembelajaran individual atau privat, belakangan ini memang cukup marak dilakukan melalui les-les privat atau melalui lembaga-lembaga pendidikan yang memang khusus memberikan pelayanan yang bersifat individual.
5. Menyiapkan dan Menggunakan berbagai Media dalam Pembelejaran
Alat peraga/media pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pembelajaran yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung yang yang dibantu dengan sejumlah alat peraga dengan memperhatikan dari segi nilai dan manfaat alat peraga tersebut dalam membantu menyukseskan proses pembelajaran di kelas.
Di dalam menyiapkan dan menggunakan media atau alat peraga, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut :
• Alat peraga yang digunakan hendaknya dapat memperbesar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diasjikan.
• Alat peraga yang dipilih hendaknya sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok.
• Alat yang dipilih hendaknya tepat, memadai dan mudah digunakan.
C. Tujuan pengelolaan kelas yang efektif
`Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Mutu pembelajaran aka tercapai, jika tercapainya tujauan pembelajaran.Karakter kelas yang dihasilkan karena adanya proses pengelolaa kelas yang baik akan memiliki sekurang-urangnya tiga ciri, yakni:
1. Speed, artinya anak dapat belajar dalam percepatan proses dan progres, sehingga membutuhkan waktu yang relatif singkat.
2. Simple, artinya organisasi kelas dan materi menjadi sederhana, mudah dicerna dan situasi kelas menjadi kondusif.
3. Self-confidence, artinya anak dapat belajar dengan kondisi yang penuh rasa percaya diri atau menganggap dirinya mampu mengikuti pelajaran dan belajar berprestasi.
Tujuan manajemen Kelas pada hakekatnya sudah terkandung pada tujuan pendidikan secara umum. Menurut Sudirman (2000), tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan pasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Suharsimi Arikunto,(2004), berpendapat bahwa tujuan penegelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Untuk lebih jelasnya Arikuno menguraikan rincian tujuan pengelolaan Kelas, sebagaimana berikut ini :
a. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
b. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
c. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan siaoal, emosional dan intelek siswa dalam belajar.
d. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi,budaya, serta sifat-sifat individunya.
D. Usaha-usaha yang di Tempuh dalam Manajemen Kelas Sehingga Dapat Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar
Untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar ada 5 langkah yang ditempuh dalam proses manajemen kelas yang efektif
1. Menentukan Kondisi Kelas Yang Diinginkan
Langkah pertama dalam proses manajemen kelas yang efektif adalah menentukan kondisi kelas yang ideal. Guru perlu mengetahui dengan jelas dan mendalam tentang kondisi-kondisi yang menurut penelitiannya akan memungkinkan mengajar secara efektif.
Di samping itu guru hendaknya menyadari perlunya terus menerus menilai manfaat pemahamannya dan mengubahnya apabila keadaan sesuai adalah:
a. Guru tidak memandang kelas semata-mata hanya sebagai reaksi atas masalah yang timbul.
b. Guru akan memilih seperangkat tujuan yang mengarahkan upayanya dan menjadi tolak ukur penilaian atas hasil upayanya.
2. Menganalisis kondisi kelas yang nyata.
Setelah menentukan kondisi kelas yang diinginkan, guru selanjutnya menganalisis keadaan yang ada yakni membandingkan keadaan yang nyata dengan keadaan yang diharapkan kemudian menentukan kondisi dengan keadaan yang diharapkan, dengan demikian kondisi ini memungkinkan guru mengetahui :
a. Kesenjangan antara kondisi sekarang dengan yang diharapkan kemudian menantikan kondisi yang perlu di perhatikan segera dan mana yang dapat diselesaikan kemudian, dan mana yang memerlukan pemantauan.
b. Masalah yang mungkin terjadi yakni kesenjangan yang mungkin timbul jika guru gagal mengambil tindakan pemecahan.
c. Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap sudah baik.
3. Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan.
Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi manajerial yang terkandung dalam berbagai pendekatan manajemen kelas dan mampu memilih serta menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang telah dianalisis sebelumnya, proses pemilihan ini dapat dianggap suatu kerja komputer, guru memeriksa strategi-strategi yang tersimpan dalam sel-sel komputer dan memilih strategi yang memberikan harapan untuk meningkatkan kondisi yang dianggap sesuai.
Menilai efektifitas pengelolaan Dalam tahap ini guru menilai efektifitas pengelolaannya artinya dari waktu ke waktu guru harus menilai sejauh mana keberhasilan memelihara dan menciptakan kondisi yang sesuai. Proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada dua perangkat perilaku. Perilaku pertama adalah perilaku guru dalam arti sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang direncanakan akan dilakukan. Perilaku kedua adalah perilaku peserta didik, yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai. Yakni apakah mereka telah melakukan apa-apa yang diharapkan untuk dilakukan.
A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN
Dryden dan Voss (1999) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya dan memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak disertai suasana tegang sangat baik dan mendukung untuk membangkitkan motivasi belajar. Anak-anak pada dasarnya belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan. Artinya belajar paling efektif jika dilakukan secara aktif oleh individu tersebut.
Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.
Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa dan juga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga memberikan kreatifitas siswa untuk mampu belajar dengan potensi yang sudah mereka miliki yaitu dengan memberikan kebebasan dalam melaksanakan pembelajaran dengan cara belajarnya sendiri.
Salah satu hal yang harus dikedepankan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan adalah menyertakan partisipasi siswa di dalam kelaS.Selain untuk membangun komunikasi dengan siswa, pengajar juga dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan bagi para siswa. Jika situasi ini tak terbangun, bisa jadi siswa akan merasa canggung berbicara dengan guru dan komunikasi tidak akan berjalan baik. Akibatnya, pengajar juga akan mengalami kesulitan untuk mengetahui apa yang menjadi keinginan siswa.
B. MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN BAGI SISWA
Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya ruang belajar harus bersih, tidak ada bau-bauan yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, ruangan cukup terang, tidak gelap dan tidak mengganggu mata, sarana yang diperlukan dalam belajar yang cukup atau lengkap. Dalam mewujudkan kondisi pembelajaran yang efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:
1. Melibatkan Siswa secara Aktif
Aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, antara lain:
a. Aktivitas visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen.
b. Aktivitas lisan, seperti bercerita, tanya jawab.
c. Aktivitas mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru, mendengarkan pengarahan guru.
d. Aktivitas gerak, seperti melakukan praktek di tempat praktek.
e. Aktivitas menulis, seperti mengarang, membuat surat, membuat karya tulis.
Aktivitas kegiatan pembelajaran siswa di kelas hendaknya lebih banyak melibatkan siswa, atau lebih memperhatikan aktivitas siswa. Berikut ini cara meningkatkan keterlibatan siswa :
1. Tingkatkan partisifasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai teknik mengajar.
2. Berikanlah materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.
3. Usahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa. Untuk itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkannya dengan bahan pembelajaran.
2. Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar.
Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran erat kaitannya dengan sifat, bakat dan kecerdasan siswa. Pembelajaran yang dapat menyesuaikan sifat, bakat dan kecerdasan siswa merupakan pembelajaran yang diminati.
3. Membangkitkan Motivasi Siswa
Motif adalah semacam daya yang terdapat dalam diri seseorang yang dapat mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedang motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Tugas guru adalah bagaimana membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar. Berikut ini beberapa cara bagaimana membangkitkan motivasi siswa :
a) Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya;
b) Pada awal kegiatan pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, sehingga siswa terpancing untuk ikut serta didalam mencapai tujuan tersebut.
c) Guru berusaha mendorong siswa dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
d) Guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usahanya sendiri;
e) Guru selalu berusaha menarik minat belajar siswa.
f) Sering-seringlah memberikan tugas dan memberikan nilai seobyektif mungkin.
4. Memberikan pelayanan individu Siswa
Perlunya keterampilan guru di dalam memberikan variasi pembelajaran agar dapat diserap oleh semua siswa dalam berbagai tingkatan kemampuan, dan disini pulalah perlu adanya pelayanan individu siswa.
Memberikan pelayanan individual siswa bukanlah semata-mata ditujuan kepada siswa secara perorangan saja, melainkan dapat juga ditujukan kepada sekelompok siswa dalam satu kelas tertentu. Sistem pembelajaran individual atau privat, belakangan ini memang cukup marak dilakukan melalui les-les privat atau melalui lembaga-lembaga pendidikan yang memang khusus memberikan pelayanan yang bersifat individual.
5. Menyiapkan dan Menggunakan berbagai Media dalam Pembelejaran
Alat peraga/media pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pembelajaran yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung yang yang dibantu dengan sejumlah alat peraga dengan memperhatikan dari segi nilai dan manfaat alat peraga tersebut dalam membantu menyukseskan proses pembelajaran di kelas.
Di dalam menyiapkan dan menggunakan media atau alat peraga, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut :
• Alat peraga yang digunakan hendaknya dapat memperbesar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diasjikan.
• Alat peraga yang dipilih hendaknya sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok.
• Alat yang dipilih hendaknya tepat, memadai dan mudah digunakan.
C. Tujuan pengelolaan kelas yang efektif
`Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Mutu pembelajaran aka tercapai, jika tercapainya tujauan pembelajaran.Karakter kelas yang dihasilkan karena adanya proses pengelolaa kelas yang baik akan memiliki sekurang-urangnya tiga ciri, yakni:
1. Speed, artinya anak dapat belajar dalam percepatan proses dan progres, sehingga membutuhkan waktu yang relatif singkat.
2. Simple, artinya organisasi kelas dan materi menjadi sederhana, mudah dicerna dan situasi kelas menjadi kondusif.
3. Self-confidence, artinya anak dapat belajar dengan kondisi yang penuh rasa percaya diri atau menganggap dirinya mampu mengikuti pelajaran dan belajar berprestasi.
Tujuan manajemen Kelas pada hakekatnya sudah terkandung pada tujuan pendidikan secara umum. Menurut Sudirman (2000), tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan pasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Suharsimi Arikunto,(2004), berpendapat bahwa tujuan penegelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Untuk lebih jelasnya Arikuno menguraikan rincian tujuan pengelolaan Kelas, sebagaimana berikut ini :
a. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
b. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
c. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan siaoal, emosional dan intelek siswa dalam belajar.
d. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi,budaya, serta sifat-sifat individunya.
D. Usaha-usaha yang di Tempuh dalam Manajemen Kelas Sehingga Dapat Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar
Untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar ada 5 langkah yang ditempuh dalam proses manajemen kelas yang efektif
1. Menentukan Kondisi Kelas Yang Diinginkan
Langkah pertama dalam proses manajemen kelas yang efektif adalah menentukan kondisi kelas yang ideal. Guru perlu mengetahui dengan jelas dan mendalam tentang kondisi-kondisi yang menurut penelitiannya akan memungkinkan mengajar secara efektif.
Di samping itu guru hendaknya menyadari perlunya terus menerus menilai manfaat pemahamannya dan mengubahnya apabila keadaan sesuai adalah:
a. Guru tidak memandang kelas semata-mata hanya sebagai reaksi atas masalah yang timbul.
b. Guru akan memilih seperangkat tujuan yang mengarahkan upayanya dan menjadi tolak ukur penilaian atas hasil upayanya.
2. Menganalisis kondisi kelas yang nyata.
Setelah menentukan kondisi kelas yang diinginkan, guru selanjutnya menganalisis keadaan yang ada yakni membandingkan keadaan yang nyata dengan keadaan yang diharapkan kemudian menentukan kondisi dengan keadaan yang diharapkan, dengan demikian kondisi ini memungkinkan guru mengetahui :
a. Kesenjangan antara kondisi sekarang dengan yang diharapkan kemudian menantikan kondisi yang perlu di perhatikan segera dan mana yang dapat diselesaikan kemudian, dan mana yang memerlukan pemantauan.
b. Masalah yang mungkin terjadi yakni kesenjangan yang mungkin timbul jika guru gagal mengambil tindakan pemecahan.
c. Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap sudah baik.
3. Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan.
Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi manajerial yang terkandung dalam berbagai pendekatan manajemen kelas dan mampu memilih serta menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang telah dianalisis sebelumnya, proses pemilihan ini dapat dianggap suatu kerja komputer, guru memeriksa strategi-strategi yang tersimpan dalam sel-sel komputer dan memilih strategi yang memberikan harapan untuk meningkatkan kondisi yang dianggap sesuai.
Menilai efektifitas pengelolaan Dalam tahap ini guru menilai efektifitas pengelolaannya artinya dari waktu ke waktu guru harus menilai sejauh mana keberhasilan memelihara dan menciptakan kondisi yang sesuai. Proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada dua perangkat perilaku. Perilaku pertama adalah perilaku guru dalam arti sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang direncanakan akan dilakukan. Perilaku kedua adalah perilaku peserta didik, yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai. Yakni apakah mereka telah melakukan apa-apa yang diharapkan untuk dilakukan.
Tugas 12 Tahapan Penanggulangan Disiplin Kelas
Tahapan Penanggulangan Disiplin Kelas
A. Tindakan Preventif (Pencegahan)
Preventif secara etimologi berasal dari bahasa latin pravenire yang artinya datang sebelum/antisipasi/mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang luas preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinyan gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang.
Menurut Rachman (1997) Tindakan preventif (pencegahan) adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran. Upaya ini dilakukan dengan pemberian pengaruh yang positif terhadap individu serta dengan menciptakan suasana lingkungan sekolah, termasuk pengajaran yang menyenangkan.
Tindakan Preventif merupakan suatu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan untuk dapat mencegah atau juga mengurangi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Tindakan preventif (pencegahan) ini dilakukan manusia, baik itu secara pribadi atau juga berkelompok untuk dapat melindungi diri mereka dari hal buruk yang mungkin dapat terjadi.
Tindakan preventif adalah tindakan untuk melakukan pencegahan dimana sasarannya adalah mengembalikan permasalahan siswa yang tidak terlepas dari faktor lingkungan di mana ia tinggal.
Menurut Rachman (dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan, 2012: 119) mengemukakan langkah-langkah Tindakan Preventif (pencegahannya) sebagai berikut:
1. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Sikap guru terhadap kegiatan profesinya akan banyak mempengaruhi terciptanya kondisi belajar mengajar atau menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya belajar.
Oleh karena itu, langkah utama dan pertama yang strategis dan mendasar dalam kegiatan pengelolaan kelas adalah "Peningkatan kesadaran diri sebagai guru.” Apabila seorang guru sadar akan profesinya sebagai guru pada gilirannya akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan tugasnya.
Implikasi adanya kesadaran diri sebagai guru akan tampak dalam sikap guru yang demokratis tidak otoriter, menunjukan kepribadian yang stabil, harmonis serta berwibawa. Sikap demikian pada akhirnya akan menumbuhkan atau menghasilkan reaksi serta respon yang positif dari siswa sekolah dasar.
2. Peningkatan kesadaran siswa
Meningkatkan kesadaran diri sebagai guru tidak akan ada artinya tanpa diikuti meningkatnya kesadaran siswa sebab apabila siswa tidak atau kurang memiliki kesadaran terhadap dirinya tidak akan terjadi interaksi yang positif dengan guru dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Pada akhimya dapat mengganggu kondisi optimal dalam rangka belajar mengajar. Kurangnya kesadaran siswa terhadap dirinya ditandai dengan sikap yang mudah marah, mudah tersinggung, mudah kecewa, dan sikap tersebut akan memungkinkan siswa melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji.
Untuk menanggulangi atau mencegah munculnya sikap negatif tersebut guru harus berupaya meningkatkan kesadaran siswa melalui tindakan sebagai berikut:
a. Memberitahukan kepada siswa tentang hak dan kewajiban siswa sebagai anggota kelas.
b. Memperhatikan kebutuhan dan keinginan siswa.
c. Menciptakan suasana adanya saling pengertian yang baik antara guru dan siswa.
3. Sikap Polos dan Tulus dari Guru
Guru dituntut untuk bersikap polos dan tulus, artinya guru dalam tindakan dan sikap keseharian selalu "Apa adanya" tidak berpura-pura. Guru dengan sikap dan kepribadiannya sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena tingkah laku, cara menyikapi, dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon dan diberikan reaksi oleh para peserta didik. Kalau stimulus itu positif maka respon yang diberikan juga akan positif. Sebaliknya jika stimulus yang diberikan negatif maka respon yang diberikan adalah negatif.
Sikap hangat, terbuka, mau mendengarkan harapan dan atau keluhan para siswa, akrab dengan guru akan memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi wajar antara guru dan peserta didik. Tindakan dan sikap demikian akan memberikan rangsangan positif bagi siswa, khususnya siswa sekolah dasar dan siswa akan memberikan respon atau reaksi positif. Penciptaan suasana sosioemosional di dalam kelas akan banyak dipengaruhi oleh polos tidaknya dan tulus tidaknya sikap guru yang pada gilirannya akan berpengaruh penciptaan kondisi lingkungan yang optimal dalam rangka proses belajar mengajar.
4. Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan
Langkah ini mengharuskan guru agar mampu:
a. Mengidentifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku siswa yang bersifat individual atau kelompok. Termasuk di dalamnya penyimpangan yang sengaja dilakukan siswa sekolah dasar yang tujuannya hanya sekedar untuk menarik perhatian guru atau teman-temannya.
b. Mengenal berbagai pendekatan dan pengelolaan kelas dan menggunakan sesuai dengan situasi atau menggantinya dengan pendekatan lain yang telah dipilihnya apabila pilihan pertama mengalami kegagalan.
c. Mempelajari pengalaman guru-guru lainnya baik yang gagal atau berhasil sehingga dirinya mempunyai alternatif yang bervariasi dalam berbagai problem pengelolaan manajemen kelas di sekolah dasar.
5. Menciptakan "kontrak sosial"
Kontrak sosial pada dasarnya berkaitan dengan "Standar tingkah laku" yang diharapkan dan memberikan gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan sekolah. Dengan kata lain "Standar tingkah laku yang memadai dalam situasi khusus".
Suatu persetujuan umum tentang bagaimana sesuatu dibuat, tindakan sehari-hari yang bagaimana yang diperbolehkan. Standar tingkah laku ini tidak membatasi kebebasan siswa akan tetapi merupakan tindakan pengarahan ke arah tingkah laku yang memadai atau yang diharapkan dalam beberapa situasi.
Standar tingkah laku harus melalui "Kontrak sosial" dengan siswa. Dalam arti bahwa aturan yang berkaitan dengan nilai atau norma yang turun dari atasan (guru/sekolah) tidak timbul dari bawah akan mengakibatkan aturan tersebut kurang dihormati atau ditaati, sehingga perumusannya perlu dibicarakan atau disetujui bersama oleh guru dan siswa.
Yang dilakukan dalam usaha preventif (Pencegahan) di lingkungan sekolah antara lain:
1. Memberikan bimbingan
2. Mengadakan hubungan baik dengan orangtua murid dengan sekolah sehingga ada saling pengertian
3. Memberikan motivasi belajar pada siswa
4. Mengadakan pengajawan ekstrakurikuler
5. Memantau perkembangan anak
Contohnya:
1. Guru menasihati murid agar tidak terlambat datang ke sekolah.
2. Tindakan orang tua membatasi anaknya yang di bawah umur dalam menggunakan gadget, merupakan tindakan preventif agar si anak tidak kecanduan bermain gadget.
B. Tindakan Kuratif (Penyembuhan)
Upaya Kuratif disebut juga upaya korektif yaitu usaha untuk merubah permasalahan yang terjadi dengan cara memberikan pendidikan dan pengarahan kepada mereka (merubah keadaan yang salah kepada keadaan yang benar)
Tindakan kuratif (penyembuhan) adalah tindakan yang diambil setelah terjadinya tindak penyimpangan sosial. Tindakan ini ditujukan untuk memberikan penyadaran kepada para pelaku penyimpangan agar dapat menyadari kesalahannya dan serta mampu memperbaiki kehidupannya, sehingga di kemudian hari tidak lagi mengulangi kesalahannya.
Dalam kegiatan memanajemen kelas, pelanggaran yang sudah terlanjur dilakukan peserta didik atau sejumlah peserta didik perlu ditanggulangi dengan tindakan penyembuhan baik secara individual maupun secara kelompok.
Menurut Johar Permana (dalam Abdul Majid 2013:122) mengemukakan ada 5 langkah-langkah kegiatan Tindakan Penyembuhan (Kuratif) yaitu sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi masalah
Pada langkah pertama ini guru melakukan kegiatan untuk mengenal atau mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam kelas. Dari masalah-masalah tersebut guru harus dapat mengidentifikasi jenis-jenis penyimpangan sekaligus mengetahui siswa yang melakukan penyimpangan tersebut.
2. Menganalisa masalah
Pada langkah kedua ini, kegiatan guru adalah berusaha untuk menganalisa penyimpangan tersebut dan menyimpulkan latar belakang dan sumber dari pada penyimpangan itu. Setelah diketahui sumber penyimpangan guru kemudian melanjutkan usahanya untuk menentukan alternatif-alternati penanggulangan atau penyembuhan penyimpangan tersebut.
3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan, menilai dan melaksanakan salah satu alternatif pemecahan
Pada langkah ketiga ini, kegiatan yang dilakukan adalah memilih alternatif berdasarkan sejumlah alternatif pemecahan masalah yang telah disusun. Artinya alternatif mana yang paling tepat untuk menanggulangi penyimpangan tersebut.
4. Melaksanakan alternatif yang telah ditetapkan
Setelah ditetapkan alternatif yang tepat maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan alternatif tersebut.
5. Mendapatkan balikan dari hasil pelaksanaan alternatif pemecahan masalah yang dimaksud.
Langkah ini didahului dengan langkah monitoring yaitu kegiatan untuk mendapatkan data yang merupakan balikan untuk menilai apakah pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih telah mencapai sasaran sesuai dengan yang direncanakan atau bahkan terjadi perkembangan baru yang lebih baik, semua ini merupakan dasar untuk melakukan perbaikan program.
Kegiatan kilas balik seperti itu dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan peserta didik. Dengan pertemuan tersebut perlu dijelaskan tujuan peetemuan dan manfaat pertemuan. Manfaat pertemuan perlu dijelaaskan karena untuk memberikan kesadaran pada peserta didik bahwa pertemuan yang dilakukan diusahakan dengan penuh ketulusan, semata- mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun sekolah.
Selain itu perlu disikapi pengendalian perilaku guru dalam pertemuan tersebut. Tunjukkan kepada peserta didik bahwa guru bukan orang yang sempurna atau tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. Sehingga antara peserta didik diperoleh kesadaran untuk bersama-sama belajar saling memperbaiki dan saling mengingatkan, yang semuanya itu untuk kepentingan bersama. Informasi yang diperoleh dari balikan ini merupakan bahan yang sangat berguna untuk menilai program, dan akhirnya merupakan dasar melakukan perbaikan program.
Menurut Ahmad Rohani (2010:162) mengemukakan langkah-langkah implementasi yang dapat dilakukan dalam tindakan penyembuhan (Kuratif) sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi peserta didik yang mendapat kesulitan untuk menerima dan mengikuti tata tertib atau menerima dan mengikuti tata tertib atau menerima konsekuensi dan pelanggaran yang dibuatnya
2. Membuat rencana yang diperkirakan paling tepat tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam mengadakan kontrak dengan peserta didik.
3. Menetapkan waktu pertemuan dengan peserta didik tersebut yang disetujui bersama oleh guru dan peserta didik yang bersangkutan
4. bila saatnya pertemuan dengan peserta didik jelaskanlah maksud diperoleh baik oleh peserta didik maupun oleh sekolah
5. Tunjukkanlah kepada peserta didik bahwa guru pun bukan orang yang sempurna dan tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan dalam berbagai hal. Akan tetapi yang penting antara guru dan peserta didik harus ada kesadaran untuk bersama-sama belajar saling memperbaiki diri, saling mengingatkan bagi kepentingan bersama.
6. Bila pertemuan yang diadakan dan ternyata peserta didik responsif maka guru bisa mengajak peserta didik untuk melaksankan diskusi tentang masalah yang dihadapinya
7. Pertemuan guru dan peserta didik harus sampai kepada pemecahan masalah dan sampai kepada “kontak individual” yang diterima peserta didik dalam rangka memperbaiki tingkah laku peserta didik tentang pelanggaran yang dibuatnya
8. Melakukan kegiatan tindak lanjut.
Contoh kasus tindakan kuratif beserta penyelesainnya:
1. Seorang guru menegur dan menasihati siswanya karena ketahuan menyontek pada saat ulangan bertujuan untuk memberi penyadaran kepada perilaku dan memberi efek jera.
2. Suka penyelewengan waktu belajar untuk kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti, omong kosong sambil merokok. Akibat konsentrasi pikirannya menjadi lemah karena kurang tidur atau istirahat, suka melamunkan impian-impian kosong, kecanduan dan sebagainya. Tindak preventif adalah menjaga keharmonisan hubungan antar sivitas akademika dengan melibatkannya dalam kesibukan-kesibukan kecil sampai kesibukan besar yang menghasilkan sukses, sehingga tidak menimbulkan rasa patah semangat atau kebencian-kebencian kepada tugas-tugas, khususnya tugas-tugas akademik. Secara tindak kuratif atau harus dilakukan penyembuhan terhadap pelaku.
3. Suka membolos atau meninggalkan pelajaran mengakibatkan siswa ketinggalan pelajaran, atau kehilangan bagian penting dari pelajaran, lebih-lebih bila pelajaran itu bersifat prerekuisit (misalnya matematika), maka kerugian-kerugian itu akan semakin menjadi "momok" dari studinya.
Secara preventif
Dianjurkan kepada para guru agar meningkatkan profesionalitasnya dalam PBM sehingga pengajaran lebih menarik minat belajar siswa, baik secara metodologis maupun karena penggunaan multimedia serta alat peraga yang populer dan inovatif-kreatif. Sesungguhnya bila PBM semakin menarik, kecenderungan untuk membolos semakin kecil. Sebaliknya PBM yang membosankan meningkatkan hasrat membolos bagi para siswa.
Secara Kuratif
a. Dianjurkan kepada guru agar dapat melakukan deteksi sedini mungkin terhadap kebiasaan membolos para siswanya, dengan melakukan pendekatan edukatif kepada para pembolos serta meningkatkan disiplin pengajarannya, disertai introspeksi dan retrospeksi terhadap cara pengajaran masing-masing.
b. Diskusi dengan guru-guru mata pelajaran sejenis serta guru-guru senior pakar sangat diperlukan. Jangan hanya melakukan tindakan sepihak dengan melemparkan kesalahan kepada siswa selalu, mungkin sistem instruksional guna sendiri yang perlu direvisi dan ditingkatkan.
c. Strategi pembuatan soal tes serta sistem evaluasinya perlu ditinjau kembali.
d. Dekatilah siswa-siswa Anda agar dapat mengungkapkan problema-problema yang perlu dipecahkan, yang merupakan kendala belajar/PBM.
e. Bersikap angkuh atau menakutkan atau bersikap "angker" di hadapan siswa bukanlah merupakan sikap guru yang ideal. Tindak bijaksana secara edukatif perlu dipelihara demi menciptakan iklim sosioemosional yang positif, dan tindakan ini bukan merupakan tindak yang menurunkan wibawa guru.
A. Tindakan Preventif (Pencegahan)
Preventif secara etimologi berasal dari bahasa latin pravenire yang artinya datang sebelum/antisipasi/mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang luas preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinyan gangguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang.
Menurut Rachman (1997) Tindakan preventif (pencegahan) adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran. Upaya ini dilakukan dengan pemberian pengaruh yang positif terhadap individu serta dengan menciptakan suasana lingkungan sekolah, termasuk pengajaran yang menyenangkan.
Tindakan Preventif merupakan suatu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan untuk dapat mencegah atau juga mengurangi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Tindakan preventif (pencegahan) ini dilakukan manusia, baik itu secara pribadi atau juga berkelompok untuk dapat melindungi diri mereka dari hal buruk yang mungkin dapat terjadi.
Tindakan preventif adalah tindakan untuk melakukan pencegahan dimana sasarannya adalah mengembalikan permasalahan siswa yang tidak terlepas dari faktor lingkungan di mana ia tinggal.
Menurut Rachman (dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan, 2012: 119) mengemukakan langkah-langkah Tindakan Preventif (pencegahannya) sebagai berikut:
1. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Sikap guru terhadap kegiatan profesinya akan banyak mempengaruhi terciptanya kondisi belajar mengajar atau menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya belajar.
Oleh karena itu, langkah utama dan pertama yang strategis dan mendasar dalam kegiatan pengelolaan kelas adalah "Peningkatan kesadaran diri sebagai guru.” Apabila seorang guru sadar akan profesinya sebagai guru pada gilirannya akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan tugasnya.
Implikasi adanya kesadaran diri sebagai guru akan tampak dalam sikap guru yang demokratis tidak otoriter, menunjukan kepribadian yang stabil, harmonis serta berwibawa. Sikap demikian pada akhirnya akan menumbuhkan atau menghasilkan reaksi serta respon yang positif dari siswa sekolah dasar.
2. Peningkatan kesadaran siswa
Meningkatkan kesadaran diri sebagai guru tidak akan ada artinya tanpa diikuti meningkatnya kesadaran siswa sebab apabila siswa tidak atau kurang memiliki kesadaran terhadap dirinya tidak akan terjadi interaksi yang positif dengan guru dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Pada akhimya dapat mengganggu kondisi optimal dalam rangka belajar mengajar. Kurangnya kesadaran siswa terhadap dirinya ditandai dengan sikap yang mudah marah, mudah tersinggung, mudah kecewa, dan sikap tersebut akan memungkinkan siswa melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji.
Untuk menanggulangi atau mencegah munculnya sikap negatif tersebut guru harus berupaya meningkatkan kesadaran siswa melalui tindakan sebagai berikut:
a. Memberitahukan kepada siswa tentang hak dan kewajiban siswa sebagai anggota kelas.
b. Memperhatikan kebutuhan dan keinginan siswa.
c. Menciptakan suasana adanya saling pengertian yang baik antara guru dan siswa.
3. Sikap Polos dan Tulus dari Guru
Guru dituntut untuk bersikap polos dan tulus, artinya guru dalam tindakan dan sikap keseharian selalu "Apa adanya" tidak berpura-pura. Guru dengan sikap dan kepribadiannya sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena tingkah laku, cara menyikapi, dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon dan diberikan reaksi oleh para peserta didik. Kalau stimulus itu positif maka respon yang diberikan juga akan positif. Sebaliknya jika stimulus yang diberikan negatif maka respon yang diberikan adalah negatif.
Sikap hangat, terbuka, mau mendengarkan harapan dan atau keluhan para siswa, akrab dengan guru akan memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi wajar antara guru dan peserta didik. Tindakan dan sikap demikian akan memberikan rangsangan positif bagi siswa, khususnya siswa sekolah dasar dan siswa akan memberikan respon atau reaksi positif. Penciptaan suasana sosioemosional di dalam kelas akan banyak dipengaruhi oleh polos tidaknya dan tulus tidaknya sikap guru yang pada gilirannya akan berpengaruh penciptaan kondisi lingkungan yang optimal dalam rangka proses belajar mengajar.
4. Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan
Langkah ini mengharuskan guru agar mampu:
a. Mengidentifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku siswa yang bersifat individual atau kelompok. Termasuk di dalamnya penyimpangan yang sengaja dilakukan siswa sekolah dasar yang tujuannya hanya sekedar untuk menarik perhatian guru atau teman-temannya.
b. Mengenal berbagai pendekatan dan pengelolaan kelas dan menggunakan sesuai dengan situasi atau menggantinya dengan pendekatan lain yang telah dipilihnya apabila pilihan pertama mengalami kegagalan.
c. Mempelajari pengalaman guru-guru lainnya baik yang gagal atau berhasil sehingga dirinya mempunyai alternatif yang bervariasi dalam berbagai problem pengelolaan manajemen kelas di sekolah dasar.
5. Menciptakan "kontrak sosial"
Kontrak sosial pada dasarnya berkaitan dengan "Standar tingkah laku" yang diharapkan dan memberikan gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan sekolah. Dengan kata lain "Standar tingkah laku yang memadai dalam situasi khusus".
Suatu persetujuan umum tentang bagaimana sesuatu dibuat, tindakan sehari-hari yang bagaimana yang diperbolehkan. Standar tingkah laku ini tidak membatasi kebebasan siswa akan tetapi merupakan tindakan pengarahan ke arah tingkah laku yang memadai atau yang diharapkan dalam beberapa situasi.
Standar tingkah laku harus melalui "Kontrak sosial" dengan siswa. Dalam arti bahwa aturan yang berkaitan dengan nilai atau norma yang turun dari atasan (guru/sekolah) tidak timbul dari bawah akan mengakibatkan aturan tersebut kurang dihormati atau ditaati, sehingga perumusannya perlu dibicarakan atau disetujui bersama oleh guru dan siswa.
Yang dilakukan dalam usaha preventif (Pencegahan) di lingkungan sekolah antara lain:
1. Memberikan bimbingan
2. Mengadakan hubungan baik dengan orangtua murid dengan sekolah sehingga ada saling pengertian
3. Memberikan motivasi belajar pada siswa
4. Mengadakan pengajawan ekstrakurikuler
5. Memantau perkembangan anak
Contohnya:
1. Guru menasihati murid agar tidak terlambat datang ke sekolah.
2. Tindakan orang tua membatasi anaknya yang di bawah umur dalam menggunakan gadget, merupakan tindakan preventif agar si anak tidak kecanduan bermain gadget.
B. Tindakan Kuratif (Penyembuhan)
Upaya Kuratif disebut juga upaya korektif yaitu usaha untuk merubah permasalahan yang terjadi dengan cara memberikan pendidikan dan pengarahan kepada mereka (merubah keadaan yang salah kepada keadaan yang benar)
Tindakan kuratif (penyembuhan) adalah tindakan yang diambil setelah terjadinya tindak penyimpangan sosial. Tindakan ini ditujukan untuk memberikan penyadaran kepada para pelaku penyimpangan agar dapat menyadari kesalahannya dan serta mampu memperbaiki kehidupannya, sehingga di kemudian hari tidak lagi mengulangi kesalahannya.
Dalam kegiatan memanajemen kelas, pelanggaran yang sudah terlanjur dilakukan peserta didik atau sejumlah peserta didik perlu ditanggulangi dengan tindakan penyembuhan baik secara individual maupun secara kelompok.
Menurut Johar Permana (dalam Abdul Majid 2013:122) mengemukakan ada 5 langkah-langkah kegiatan Tindakan Penyembuhan (Kuratif) yaitu sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi masalah
Pada langkah pertama ini guru melakukan kegiatan untuk mengenal atau mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam kelas. Dari masalah-masalah tersebut guru harus dapat mengidentifikasi jenis-jenis penyimpangan sekaligus mengetahui siswa yang melakukan penyimpangan tersebut.
2. Menganalisa masalah
Pada langkah kedua ini, kegiatan guru adalah berusaha untuk menganalisa penyimpangan tersebut dan menyimpulkan latar belakang dan sumber dari pada penyimpangan itu. Setelah diketahui sumber penyimpangan guru kemudian melanjutkan usahanya untuk menentukan alternatif-alternati penanggulangan atau penyembuhan penyimpangan tersebut.
3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan, menilai dan melaksanakan salah satu alternatif pemecahan
Pada langkah ketiga ini, kegiatan yang dilakukan adalah memilih alternatif berdasarkan sejumlah alternatif pemecahan masalah yang telah disusun. Artinya alternatif mana yang paling tepat untuk menanggulangi penyimpangan tersebut.
4. Melaksanakan alternatif yang telah ditetapkan
Setelah ditetapkan alternatif yang tepat maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan alternatif tersebut.
5. Mendapatkan balikan dari hasil pelaksanaan alternatif pemecahan masalah yang dimaksud.
Langkah ini didahului dengan langkah monitoring yaitu kegiatan untuk mendapatkan data yang merupakan balikan untuk menilai apakah pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih telah mencapai sasaran sesuai dengan yang direncanakan atau bahkan terjadi perkembangan baru yang lebih baik, semua ini merupakan dasar untuk melakukan perbaikan program.
Kegiatan kilas balik seperti itu dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan peserta didik. Dengan pertemuan tersebut perlu dijelaskan tujuan peetemuan dan manfaat pertemuan. Manfaat pertemuan perlu dijelaaskan karena untuk memberikan kesadaran pada peserta didik bahwa pertemuan yang dilakukan diusahakan dengan penuh ketulusan, semata- mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun sekolah.
Selain itu perlu disikapi pengendalian perilaku guru dalam pertemuan tersebut. Tunjukkan kepada peserta didik bahwa guru bukan orang yang sempurna atau tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. Sehingga antara peserta didik diperoleh kesadaran untuk bersama-sama belajar saling memperbaiki dan saling mengingatkan, yang semuanya itu untuk kepentingan bersama. Informasi yang diperoleh dari balikan ini merupakan bahan yang sangat berguna untuk menilai program, dan akhirnya merupakan dasar melakukan perbaikan program.
Menurut Ahmad Rohani (2010:162) mengemukakan langkah-langkah implementasi yang dapat dilakukan dalam tindakan penyembuhan (Kuratif) sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi peserta didik yang mendapat kesulitan untuk menerima dan mengikuti tata tertib atau menerima dan mengikuti tata tertib atau menerima konsekuensi dan pelanggaran yang dibuatnya
2. Membuat rencana yang diperkirakan paling tepat tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam mengadakan kontrak dengan peserta didik.
3. Menetapkan waktu pertemuan dengan peserta didik tersebut yang disetujui bersama oleh guru dan peserta didik yang bersangkutan
4. bila saatnya pertemuan dengan peserta didik jelaskanlah maksud diperoleh baik oleh peserta didik maupun oleh sekolah
5. Tunjukkanlah kepada peserta didik bahwa guru pun bukan orang yang sempurna dan tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan dalam berbagai hal. Akan tetapi yang penting antara guru dan peserta didik harus ada kesadaran untuk bersama-sama belajar saling memperbaiki diri, saling mengingatkan bagi kepentingan bersama.
6. Bila pertemuan yang diadakan dan ternyata peserta didik responsif maka guru bisa mengajak peserta didik untuk melaksankan diskusi tentang masalah yang dihadapinya
7. Pertemuan guru dan peserta didik harus sampai kepada pemecahan masalah dan sampai kepada “kontak individual” yang diterima peserta didik dalam rangka memperbaiki tingkah laku peserta didik tentang pelanggaran yang dibuatnya
8. Melakukan kegiatan tindak lanjut.
Contoh kasus tindakan kuratif beserta penyelesainnya:
1. Seorang guru menegur dan menasihati siswanya karena ketahuan menyontek pada saat ulangan bertujuan untuk memberi penyadaran kepada perilaku dan memberi efek jera.
2. Suka penyelewengan waktu belajar untuk kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti, omong kosong sambil merokok. Akibat konsentrasi pikirannya menjadi lemah karena kurang tidur atau istirahat, suka melamunkan impian-impian kosong, kecanduan dan sebagainya. Tindak preventif adalah menjaga keharmonisan hubungan antar sivitas akademika dengan melibatkannya dalam kesibukan-kesibukan kecil sampai kesibukan besar yang menghasilkan sukses, sehingga tidak menimbulkan rasa patah semangat atau kebencian-kebencian kepada tugas-tugas, khususnya tugas-tugas akademik. Secara tindak kuratif atau harus dilakukan penyembuhan terhadap pelaku.
3. Suka membolos atau meninggalkan pelajaran mengakibatkan siswa ketinggalan pelajaran, atau kehilangan bagian penting dari pelajaran, lebih-lebih bila pelajaran itu bersifat prerekuisit (misalnya matematika), maka kerugian-kerugian itu akan semakin menjadi "momok" dari studinya.
Secara preventif
Dianjurkan kepada para guru agar meningkatkan profesionalitasnya dalam PBM sehingga pengajaran lebih menarik minat belajar siswa, baik secara metodologis maupun karena penggunaan multimedia serta alat peraga yang populer dan inovatif-kreatif. Sesungguhnya bila PBM semakin menarik, kecenderungan untuk membolos semakin kecil. Sebaliknya PBM yang membosankan meningkatkan hasrat membolos bagi para siswa.
Secara Kuratif
a. Dianjurkan kepada guru agar dapat melakukan deteksi sedini mungkin terhadap kebiasaan membolos para siswanya, dengan melakukan pendekatan edukatif kepada para pembolos serta meningkatkan disiplin pengajarannya, disertai introspeksi dan retrospeksi terhadap cara pengajaran masing-masing.
b. Diskusi dengan guru-guru mata pelajaran sejenis serta guru-guru senior pakar sangat diperlukan. Jangan hanya melakukan tindakan sepihak dengan melemparkan kesalahan kepada siswa selalu, mungkin sistem instruksional guna sendiri yang perlu direvisi dan ditingkatkan.
c. Strategi pembuatan soal tes serta sistem evaluasinya perlu ditinjau kembali.
d. Dekatilah siswa-siswa Anda agar dapat mengungkapkan problema-problema yang perlu dipecahkan, yang merupakan kendala belajar/PBM.
e. Bersikap angkuh atau menakutkan atau bersikap "angker" di hadapan siswa bukanlah merupakan sikap guru yang ideal. Tindak bijaksana secara edukatif perlu dipelihara demi menciptakan iklim sosioemosional yang positif, dan tindakan ini bukan merupakan tindak yang menurunkan wibawa guru.
Tugas 11 Prinsip-prinsip Disiplin Kelas
PRINSIP - PRINSP DISIPLIN KELAS
A. Pengertian Disiplin Kelas
Disiplin merupakan istilah yang sudah memasyarakat diberbagai instansi pemerintah maupun swasta. Kita mengenal adanya disiplin kerja, disiplin lalu lintas, disiplin belajar dan macam istilah disiplin yang lain. Disiplin secara etimologi berasal dari bahasa latin “ disibel” yang berarti pengikut. Seiring dengan perkembangan bahasa, kata tersebut mengalami perubahan menjadi ‘disipline”yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Berbeda dengan pendapat yang menyatakan bahwa disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina”yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Jadi sifat disiplin berkaitan dengan pengembangan sikap yang layak terhadap pekerjaan.Sekarang ini kata displin telah berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga banyak para ahli baik ahli bahasa maupun sosial dan etika dan estetika memberikan definisi yang berbeda-beda.
Ada beberapa tokoh yang mendefinisikan disiplin sebagai sebuah proses yang harus ditempuh sebagaimana diringkas oleh carapedia.com berikut ini;
Disiplin merupakan hasil belajar dan mencakup aspek kognitif, afektif, dan behavioral (Toto Asmara). Disiplin merupakan wujud nyata dari penghargaan kita pada diri sendiri dan orang lain (Tim Penulis Grasindo). Disiplin adalah proses pelatihan pikiran dan karakter, yang meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau nilai tertentu (Andrias Harefa). Disiplin adalah merujuk pada autoriti, keadaan kelas yang teratur, program studi yang sitematik, serta cara penetapan peraturan atau hukuman (R. F. Olivia)
Dari beberapa definisi tersebut dapat difahami bahwa disiplin adalah serangkaian pelatihan atau pembiasaan yang untuk meningkatknya kemampuan aspek kognitif, afektif dan behavioral serta pengendalian diri yang menjadi habit dalam kehidupan.
Ada juga yang mendefinisikan bahwa disiplin merupakan potensi diri siswa yang perlu diekflor dalam proses pembelajaran yang berlangsung.sebagaiman dipaparkan oleh carapedia.com berikut;
Disiplin merupakan salah satu aspek perkembangan seorang individu yang berkaitan dengan cara untuk mengkoreksi atau memperbaiki dan mengajarkan anak tingkah laku baik tanpa merusak harga diri anak (Euis Sunarti).
Pada hakekatnya, disiplin merupakan hal yang dapat dilatih.pelatihan disiplin diharapkan dapat menumbuhkan kendali diri, karakter atau keteraturan, dan efisiensi. Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa disiplin berhubungan dengan pengendalian diri supaya dapat menbedakan mana hal yang benar dan mana hal yang salah sehingga dalam jangka panjang diharapkan bisa menumbuhkan perilaku yang bertanggung jawab
Berikut ini adalah pengertian dan definisi disiplin sebagaimana dipaparkan oleh carapedia.com adalah sebagai berikut;
Disiplin adalah hubungan tata tertib, tata susila, adab, akhlak, dan kesopanan (Abdullah Sani Bin Yahaya).Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan prestasi (Jim Rohn).Disiplin merupakan latihan yang diberikan kepada murid supaya mereka bertindak sesuai dengan peraturan di rumah, sekolah, dan masyarakat (Mizan Adiliah). Disiplin adalah beraneka aturan yang menjadi petunjuk dan pegangan kehidupan beradab suatu masyarakat agar dapat melangsungkan keberadaannya dalam keadaan aman, tertib, serta terkendali berdasarkan hukum dalam semua aspek kehidupan (Sukono) Disiplin adalah tata tertib ( di sekolah, kemiliteran, dsb) atau ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Disiplin kelas merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang untuk bersikap patuh terhadap bentuk-bentuk aturan yang telah ditetapkan dalam kelas agar tercapai tujuan yang diinginkan.
B. Sumber Pelanggaran Disiplin Kelas
Sumber pelanggaran asumsi adalah suatu asumsi yang menyatakan bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya untuk mencapai tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan- kebutuhan berikut ini:
a. Kebutuhan fisik ( physical needs) manusia, yaitu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia
b. Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan ( security and safety) yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman baik fisik maupun perasaan keamanan terhadap masa depan yang dihadapinya
c. Kebutuhan rasa diterima dan cinta kasih yaituberupa kebutuhan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, penerimaan, pembenaran, dan cinta orang lain pada dirinya
d. Kebutuhan akan kehormatan harga diri (respect of self esteem) yaitu kebutuhan merasa dirinya berguna bagi orang lain, mempunyai pengaruh terhadap orang lain, dan sebagainya
e. Kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding) terhadap berbagai hal agar individu dapat mengambil berbagai keputusan yang bijaksana terhadap beberapa hal dalam menghadapi dunianya secara efektif
f. Kebutuhan akan keindahan dan aktualisasi diri (beauty and self actualization) yaitu kebutuhan untuk memperoleh pengalaman mengaktualisasikan dirinya dalam dunia nyata secara langsung agar dari pengalamannya ia akan lebih kreatif, toleran dan spontan.
Menurut Rasdi (2000) dalam Entang dan Raka Joni (24-25) Secara berurutan, manusia menghendaki terpenuhinya semua kebutuhan tersebut yang diperoleh dengan cara yang wajar, umum sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dengan logika seperti itu, mungkin pula pelanggaran disiplin di sekolah bersumber pada lingkungan sekolah yang tidak memberikan pemenuhan terhadap semua kebutuhan peserta didik khususnya, misalnya seperti berikut:
1. Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan subjek didik
2. Pemberian hak- hak kelompok besar anggota sebagai peserta didik oleh sekolah atau guru
3. Sekolah atau guru tidak atau kurang memperhatikan kelompok minoritas baik yang ada di atas atau di bawah rerata dalam berbagai aspek yang ada hubungannya dengan kehidupan sekolah
4. tau guru kurang melibatkan dan kurang mengikutsertakan para peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah sesuai dengan kemampuannya
5. Sekolah atau guru kurang memperhatikan latar belakang kehidupan peserta didik dalam keluarga ke dalam subsistem kehidupan sekolah
6. Sekolah kurang mengadakan kerja sama dengan orang tua dan keduanya juga saling melepaskan tanggung jawab.
a) Masalah dari guru atau pendidik:
1. Guru mempunyai masalah pribadi yang dapat mengganggu dirinya sehingga terbawa kedalam kelas.
2. Pendidik tidak menguasai materi sehingga peserta didik kurang paham.
3. Pendidik tidak memiliki berwibawa..
4. Guru tidak mempunyai hubungan baIk dengan siswa.
5. Guru tidak membawa keteladanan.
6. Guru kurang menggunakan media, strategi, dan metode mengajar dengan baik.
b) Masalah yang ditimbulkan oleh peserta didik
Sejumlah hal yang disebabkan oleh peserta didik berikut ini cenderung memberikan kontribusi atau membuat disiplin kelas terganggu seperti:
7. Anak yang suka berbuat aneh untuk menarik perhatian di kelas
8. Anak yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis atau kurang perhatian dari orang tuanya
9. Anak yang sakit
10. Anak yang tidak punya tempat untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah
11. Anak yang kurang tidur
12. Anak yang malas
13. Anak yang pasif
14. Anak yang menentang kepada semua peraturan
15. Anak yang pesimis terhadap semua keadaan
16. Anak yang berkeinginan berbuat segalanya dikuasai secara “sempurna”
Sementara itu, gangguan disiplin yang datang dari kelompok peserta didik dapat berupa :
1. Ketidakpuasan atas pekerjaan kelas
Disebabkan oleh tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit, beban terlalu ringan atau terlalu berat, penugasan cenderung kurang terbuka karena mereka tidak siap.
2. Hubungan interpersonal lemah
Dapat terjadi karena pengelompokkan pertemanan atau klik dan peran kelompok sangat lemah.
3. Gangguan suasana kelompok
Disebabkan oleh suasana tercekam kompetisi yang berlebihan dan sangat eksklusif ( kelompok menolak individu yang tidak siap)
4. Pengorganisasian kelompok lemah
Ditandai oleh tekanan otokrasi yang berlebihan atau lemahnya supervisi dan pengawasan, standar perilaku yang terlalu tinggi atau rendah, dan sebagainya
5. Emosi kelompok dan perubahan mendadak
Dapat diakibatkan oleh kelompok memiliki watak atau tempramen kekhawatiran tinggi, kejadian depresi yang mendadak, ketakutan atau kegemparan, serta kelompok dihinggapi rasa bosan dan kurang berminat atau emosionalnya lemah.
c) Masalah yang ditimbulkan lingkungan :
a. Lingkungan rumah atau keluarga, seperti kurang perhatian, ketidakteraturan, pertengkaran, ketidakharmonisan, dan lain- lain
b. Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti lingkungan kriminal, lingkungan bising dan lingkungan minuman keras
c. Lingkungan sekolah, seperti kelemahan guru, kelemahan kurikulum, kelemahan manajemen kelas, ketidaktertiban, dan kekurangan fasilitas
d. Situasi sekolah seperti: hari- hari pertama dan hari- hari akhir sekolah ( akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, dan lain- lain.
Sebab- sebab pelanggaran disiplin kelas itu selain bersifat pribadi juga ada sebab- sebabnya yang bersifat umum, seperti:
a. Kebosanan dalam kelas merupakan sumber pelanggaran disiplin ( mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan karena yang dikerjakan itu ke itu saja)
b. Perasaan kecewa dan tertekan karena siswa dituntut untuk bertingkah laku yang kurang wajar sebagai anak remaja
c. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian, pengenalan, atau keberadaan pribadi siswa atau status.
C. Peraturan dan Tata Tertib Kelas
Kelas harus mempunyai peraturan dan tata tertib. Peraturan dan tata tertib kelas ini harus dijelaskan dan dicontohkan kepada siswa serta dilaksanakan secara terus menerus. Peraturan dan tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa.
Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misal : siswa harus mendengarkan dengan baik apa yang sedang dikatakan atau diperintahkan oleh guru; menulis jawaban pertanyaan guru jika guru telah memerintahkannya; memberi jawaban jika guru telah menunjuknya.
Tata tertib menunjuk pada patokan atau standar untuk aktivitas khusus. Misal : penggunaan pakaian seragam; mengikuti upacara bendera; peminjaman buku perpustakaan (Suharsimi Arikunto, 1993:122-123).
Peraturan dan tata tertib kelas untuk sekolah dasar seperti yang tercantum dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:79-81) antara lain harus memuat hal-hal berikut ini.
1. Masuk sekolah
a) Siswa harus datang ke sekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pelajaran dimulai.
b) Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing-masing kemudian keluar kelas.
c) Siswa yang mendapat tugas jaga/piket harus hadir lebih awal.
d) Siswa yang sering terlambat harus diberi teguran.
e) Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberi tahu sebelum atau sesudahnya secara lisan atau tulisan.
f) Guru tidak boleh terlambat atau absen tanpa ijin.
2. Masuk kelas
a) Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi.
b) Ketua kelas menyiapkan barisan
c) Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk di tempatnya masing-masing.
d) Guru memeriksa kerapian, kebersihan, dan kesehatan siswa satu persatu; kebersihan kuku, kerapian rambut, kerapian dan kebersihan baju dan sebagainya.
3. Di dalam kelas
a) Berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang siswa.
b) Memberi salam kepada guru dan pelajaran dimulai.
c) Guru menuliskan siswa yang tidak masuk di papan absen serta alasan/keterangan mengapa tidak masuk.
d) Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib, tidak boleh ribut, bercanda atau melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
e) Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpa ijin atau alasan tertentu.
f) Guru juga tidak diperkenankan meninggalkan kelas ketika pelajaran berlangsung walaupun ada siswa sedang mengerjakan tugas di luar kelas.
4. Waktu istirahat
a) Pada saat bel istirahat berbunyi siswa keluar kelas dengan tertib.
b) Guru keluar kelas setelah semua siswa keluar.
c) Siswa tidak boleh berada di kelas ketika istirahat.
d) Selama istirahat siswa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah tanpa ijin.
e) Pada saat bel masuk lagi berbunyi (setelah istirahat) siswa masuk kelas dengan tertib dan duduk dengan tenang di tempat masing-masing.
f) Sebaiknya guru sudah berada di kelas lebih dahulu menjelang bel masuk berbunyi.
5. Waktu pulang
a) Ketika bel pulang berbunyi, pelajaran berakhir, ditutup dengan doa dan salam kepada guru.
b) Guru memberikan nasehat-nasehat, mengingatkan tentang tugas-tugas, pekerjaan rumah dan sebagainya
c) Siswa keluar kelas dengan tertib.
DAFTAR PUSTAKA
Ekosiswoyo Rasdi, Maman Rachman. 2000. Manajemen Kelas. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Riyanto. Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi bagi Pendidikan Dalam implementasiPembelajaran yang Efektif. Jakarta: Kencana.
Suharsimi Arikunto, 1993. Peraturan dan tata tertib kelas. Jakarta: RinekaCipta
A. Pengertian Disiplin Kelas
Disiplin merupakan istilah yang sudah memasyarakat diberbagai instansi pemerintah maupun swasta. Kita mengenal adanya disiplin kerja, disiplin lalu lintas, disiplin belajar dan macam istilah disiplin yang lain. Disiplin secara etimologi berasal dari bahasa latin “ disibel” yang berarti pengikut. Seiring dengan perkembangan bahasa, kata tersebut mengalami perubahan menjadi ‘disipline”yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Berbeda dengan pendapat yang menyatakan bahwa disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina”yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Jadi sifat disiplin berkaitan dengan pengembangan sikap yang layak terhadap pekerjaan.Sekarang ini kata displin telah berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga banyak para ahli baik ahli bahasa maupun sosial dan etika dan estetika memberikan definisi yang berbeda-beda.
Ada beberapa tokoh yang mendefinisikan disiplin sebagai sebuah proses yang harus ditempuh sebagaimana diringkas oleh carapedia.com berikut ini;
Disiplin merupakan hasil belajar dan mencakup aspek kognitif, afektif, dan behavioral (Toto Asmara). Disiplin merupakan wujud nyata dari penghargaan kita pada diri sendiri dan orang lain (Tim Penulis Grasindo). Disiplin adalah proses pelatihan pikiran dan karakter, yang meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau nilai tertentu (Andrias Harefa). Disiplin adalah merujuk pada autoriti, keadaan kelas yang teratur, program studi yang sitematik, serta cara penetapan peraturan atau hukuman (R. F. Olivia)
Dari beberapa definisi tersebut dapat difahami bahwa disiplin adalah serangkaian pelatihan atau pembiasaan yang untuk meningkatknya kemampuan aspek kognitif, afektif dan behavioral serta pengendalian diri yang menjadi habit dalam kehidupan.
Ada juga yang mendefinisikan bahwa disiplin merupakan potensi diri siswa yang perlu diekflor dalam proses pembelajaran yang berlangsung.sebagaiman dipaparkan oleh carapedia.com berikut;
Disiplin merupakan salah satu aspek perkembangan seorang individu yang berkaitan dengan cara untuk mengkoreksi atau memperbaiki dan mengajarkan anak tingkah laku baik tanpa merusak harga diri anak (Euis Sunarti).
Pada hakekatnya, disiplin merupakan hal yang dapat dilatih.pelatihan disiplin diharapkan dapat menumbuhkan kendali diri, karakter atau keteraturan, dan efisiensi. Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa disiplin berhubungan dengan pengendalian diri supaya dapat menbedakan mana hal yang benar dan mana hal yang salah sehingga dalam jangka panjang diharapkan bisa menumbuhkan perilaku yang bertanggung jawab
Berikut ini adalah pengertian dan definisi disiplin sebagaimana dipaparkan oleh carapedia.com adalah sebagai berikut;
Disiplin adalah hubungan tata tertib, tata susila, adab, akhlak, dan kesopanan (Abdullah Sani Bin Yahaya).Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan prestasi (Jim Rohn).Disiplin merupakan latihan yang diberikan kepada murid supaya mereka bertindak sesuai dengan peraturan di rumah, sekolah, dan masyarakat (Mizan Adiliah). Disiplin adalah beraneka aturan yang menjadi petunjuk dan pegangan kehidupan beradab suatu masyarakat agar dapat melangsungkan keberadaannya dalam keadaan aman, tertib, serta terkendali berdasarkan hukum dalam semua aspek kehidupan (Sukono) Disiplin adalah tata tertib ( di sekolah, kemiliteran, dsb) atau ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Disiplin kelas merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang untuk bersikap patuh terhadap bentuk-bentuk aturan yang telah ditetapkan dalam kelas agar tercapai tujuan yang diinginkan.
B. Sumber Pelanggaran Disiplin Kelas
Sumber pelanggaran asumsi adalah suatu asumsi yang menyatakan bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya untuk mencapai tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan- kebutuhan berikut ini:
a. Kebutuhan fisik ( physical needs) manusia, yaitu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia
b. Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan ( security and safety) yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman baik fisik maupun perasaan keamanan terhadap masa depan yang dihadapinya
c. Kebutuhan rasa diterima dan cinta kasih yaituberupa kebutuhan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, penerimaan, pembenaran, dan cinta orang lain pada dirinya
d. Kebutuhan akan kehormatan harga diri (respect of self esteem) yaitu kebutuhan merasa dirinya berguna bagi orang lain, mempunyai pengaruh terhadap orang lain, dan sebagainya
e. Kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding) terhadap berbagai hal agar individu dapat mengambil berbagai keputusan yang bijaksana terhadap beberapa hal dalam menghadapi dunianya secara efektif
f. Kebutuhan akan keindahan dan aktualisasi diri (beauty and self actualization) yaitu kebutuhan untuk memperoleh pengalaman mengaktualisasikan dirinya dalam dunia nyata secara langsung agar dari pengalamannya ia akan lebih kreatif, toleran dan spontan.
Menurut Rasdi (2000) dalam Entang dan Raka Joni (24-25) Secara berurutan, manusia menghendaki terpenuhinya semua kebutuhan tersebut yang diperoleh dengan cara yang wajar, umum sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dengan logika seperti itu, mungkin pula pelanggaran disiplin di sekolah bersumber pada lingkungan sekolah yang tidak memberikan pemenuhan terhadap semua kebutuhan peserta didik khususnya, misalnya seperti berikut:
1. Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan subjek didik
2. Pemberian hak- hak kelompok besar anggota sebagai peserta didik oleh sekolah atau guru
3. Sekolah atau guru tidak atau kurang memperhatikan kelompok minoritas baik yang ada di atas atau di bawah rerata dalam berbagai aspek yang ada hubungannya dengan kehidupan sekolah
4. tau guru kurang melibatkan dan kurang mengikutsertakan para peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah sesuai dengan kemampuannya
5. Sekolah atau guru kurang memperhatikan latar belakang kehidupan peserta didik dalam keluarga ke dalam subsistem kehidupan sekolah
6. Sekolah kurang mengadakan kerja sama dengan orang tua dan keduanya juga saling melepaskan tanggung jawab.
a) Masalah dari guru atau pendidik:
1. Guru mempunyai masalah pribadi yang dapat mengganggu dirinya sehingga terbawa kedalam kelas.
2. Pendidik tidak menguasai materi sehingga peserta didik kurang paham.
3. Pendidik tidak memiliki berwibawa..
4. Guru tidak mempunyai hubungan baIk dengan siswa.
5. Guru tidak membawa keteladanan.
6. Guru kurang menggunakan media, strategi, dan metode mengajar dengan baik.
b) Masalah yang ditimbulkan oleh peserta didik
Sejumlah hal yang disebabkan oleh peserta didik berikut ini cenderung memberikan kontribusi atau membuat disiplin kelas terganggu seperti:
7. Anak yang suka berbuat aneh untuk menarik perhatian di kelas
8. Anak yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis atau kurang perhatian dari orang tuanya
9. Anak yang sakit
10. Anak yang tidak punya tempat untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah
11. Anak yang kurang tidur
12. Anak yang malas
13. Anak yang pasif
14. Anak yang menentang kepada semua peraturan
15. Anak yang pesimis terhadap semua keadaan
16. Anak yang berkeinginan berbuat segalanya dikuasai secara “sempurna”
Sementara itu, gangguan disiplin yang datang dari kelompok peserta didik dapat berupa :
1. Ketidakpuasan atas pekerjaan kelas
Disebabkan oleh tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit, beban terlalu ringan atau terlalu berat, penugasan cenderung kurang terbuka karena mereka tidak siap.
2. Hubungan interpersonal lemah
Dapat terjadi karena pengelompokkan pertemanan atau klik dan peran kelompok sangat lemah.
3. Gangguan suasana kelompok
Disebabkan oleh suasana tercekam kompetisi yang berlebihan dan sangat eksklusif ( kelompok menolak individu yang tidak siap)
4. Pengorganisasian kelompok lemah
Ditandai oleh tekanan otokrasi yang berlebihan atau lemahnya supervisi dan pengawasan, standar perilaku yang terlalu tinggi atau rendah, dan sebagainya
5. Emosi kelompok dan perubahan mendadak
Dapat diakibatkan oleh kelompok memiliki watak atau tempramen kekhawatiran tinggi, kejadian depresi yang mendadak, ketakutan atau kegemparan, serta kelompok dihinggapi rasa bosan dan kurang berminat atau emosionalnya lemah.
c) Masalah yang ditimbulkan lingkungan :
a. Lingkungan rumah atau keluarga, seperti kurang perhatian, ketidakteraturan, pertengkaran, ketidakharmonisan, dan lain- lain
b. Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti lingkungan kriminal, lingkungan bising dan lingkungan minuman keras
c. Lingkungan sekolah, seperti kelemahan guru, kelemahan kurikulum, kelemahan manajemen kelas, ketidaktertiban, dan kekurangan fasilitas
d. Situasi sekolah seperti: hari- hari pertama dan hari- hari akhir sekolah ( akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, dan lain- lain.
Sebab- sebab pelanggaran disiplin kelas itu selain bersifat pribadi juga ada sebab- sebabnya yang bersifat umum, seperti:
a. Kebosanan dalam kelas merupakan sumber pelanggaran disiplin ( mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan karena yang dikerjakan itu ke itu saja)
b. Perasaan kecewa dan tertekan karena siswa dituntut untuk bertingkah laku yang kurang wajar sebagai anak remaja
c. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian, pengenalan, atau keberadaan pribadi siswa atau status.
C. Peraturan dan Tata Tertib Kelas
Kelas harus mempunyai peraturan dan tata tertib. Peraturan dan tata tertib kelas ini harus dijelaskan dan dicontohkan kepada siswa serta dilaksanakan secara terus menerus. Peraturan dan tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa.
Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misal : siswa harus mendengarkan dengan baik apa yang sedang dikatakan atau diperintahkan oleh guru; menulis jawaban pertanyaan guru jika guru telah memerintahkannya; memberi jawaban jika guru telah menunjuknya.
Tata tertib menunjuk pada patokan atau standar untuk aktivitas khusus. Misal : penggunaan pakaian seragam; mengikuti upacara bendera; peminjaman buku perpustakaan (Suharsimi Arikunto, 1993:122-123).
Peraturan dan tata tertib kelas untuk sekolah dasar seperti yang tercantum dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996:79-81) antara lain harus memuat hal-hal berikut ini.
1. Masuk sekolah
a) Siswa harus datang ke sekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pelajaran dimulai.
b) Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing-masing kemudian keluar kelas.
c) Siswa yang mendapat tugas jaga/piket harus hadir lebih awal.
d) Siswa yang sering terlambat harus diberi teguran.
e) Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberi tahu sebelum atau sesudahnya secara lisan atau tulisan.
f) Guru tidak boleh terlambat atau absen tanpa ijin.
2. Masuk kelas
a) Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi.
b) Ketua kelas menyiapkan barisan
c) Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk di tempatnya masing-masing.
d) Guru memeriksa kerapian, kebersihan, dan kesehatan siswa satu persatu; kebersihan kuku, kerapian rambut, kerapian dan kebersihan baju dan sebagainya.
3. Di dalam kelas
a) Berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang siswa.
b) Memberi salam kepada guru dan pelajaran dimulai.
c) Guru menuliskan siswa yang tidak masuk di papan absen serta alasan/keterangan mengapa tidak masuk.
d) Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib, tidak boleh ribut, bercanda atau melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
e) Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpa ijin atau alasan tertentu.
f) Guru juga tidak diperkenankan meninggalkan kelas ketika pelajaran berlangsung walaupun ada siswa sedang mengerjakan tugas di luar kelas.
4. Waktu istirahat
a) Pada saat bel istirahat berbunyi siswa keluar kelas dengan tertib.
b) Guru keluar kelas setelah semua siswa keluar.
c) Siswa tidak boleh berada di kelas ketika istirahat.
d) Selama istirahat siswa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah tanpa ijin.
e) Pada saat bel masuk lagi berbunyi (setelah istirahat) siswa masuk kelas dengan tertib dan duduk dengan tenang di tempat masing-masing.
f) Sebaiknya guru sudah berada di kelas lebih dahulu menjelang bel masuk berbunyi.
5. Waktu pulang
a) Ketika bel pulang berbunyi, pelajaran berakhir, ditutup dengan doa dan salam kepada guru.
b) Guru memberikan nasehat-nasehat, mengingatkan tentang tugas-tugas, pekerjaan rumah dan sebagainya
c) Siswa keluar kelas dengan tertib.
DAFTAR PUSTAKA
Ekosiswoyo Rasdi, Maman Rachman. 2000. Manajemen Kelas. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Riyanto. Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi bagi Pendidikan Dalam implementasiPembelajaran yang Efektif. Jakarta: Kencana.
Suharsimi Arikunto, 1993. Peraturan dan tata tertib kelas. Jakarta: RinekaCipta
Tugas 5 Komponen-komponen Keterampilan Manajemen Kelas
A Komponen-Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
1. Pengertian komponen keterampilan manjemen kelas
komponen keterampilan manajemen kelas adalah keseluruhan kemampuan yang dimiliki oleh guru dalam menyelesaikan tugasnya sebagai manajeman kelas
2. Macam-macam komponen keterampilan manajemen kelas
a) Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
Hubungan yang akrab dan sehat antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik yang lainnya menjadi suatu keharusan di dalam sebuah kelas. Hal ini dapat terwujud jika guru memiliki keterampilan secara pribadi yang dapat diciptakan antara lain dengan:
1) Menunjukkan kehangatan dan kepakaan terhadap kebutuhan peserta didik, baik dalam kelompok kelas maupun perorangan.
2) Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan oleh peserta didik.
3) Memberikan respon positif terhadap pemikiran peserta didiknya.
4) Membangun hubungan saling mempercayai.
5) Menunjukkan kesiapan untuk membantu peserta didik.
6) Menerima perasaan peserta didik dengan penuh pengertian dan terbuka.
7) Berusaha mengendalikan situasi hingga peserta didik merasa aman, penuh pemahaman, dan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
b) Keterampilan mengorganisasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, guru sebagai seorang manajer berperan sebagai organisator yag mengatur dan memonitori kegiatan belajar-mengajar dari awal dimulainya hingga akhir kegiatan. Keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai oelh guru agar bisa mengorganisasikan kegiatan belajar-mengajar antara lain:
1) Menjelaskan tujuan belajar yang akan dicapai kepada peserta didiknya.
2) Memvariasikan kegiatan yang mencangkup penyediaan ruangan, peralatan, dan cara menjelaskannya.
3) Membentuk komponen yang tepat.
4) Mengoordinasikan kegiatan belajar-mengajar kepada peserta didik, wali murid, dan kepala sekolah.
5) Membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan peserta didik.
6) Mengakhiri kegiatan belajar dengan laporan hasil yang akan dicapai oleh peserta didik.
c) Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu peserta didik untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai jika guru menguasai keterampilan berikut ini:
1) Memberikan penguatan sebagai kegiatan yang mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
2) Mengembangkan supervisi proses awal, yaitu sikap tanggap guru terhadap peserta didik baik secara individu maupun kelompok yang dapat memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan
3) Mengadakan supervisi proses lanjut yan memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung.
4) Mengadakan supervisi pemanduan yang memusatkan perhatian pada penilaian pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan belajar yang dilakukan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan sehingga peserta didik saling belajar dan memperoleh wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan menilai kemajuan peserta didik dan menyiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan akhir belajarnya.
d) Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar
Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar, baik secara perorangan maupun klasikal merupakan tugas utama guru. Itulah sebabnya guru harus mampu membuat perencanaan kegiatan belajar-mengajar yang tepat bagi setiap peserta didik dan seluruh peserta didik dalam sebuah kelas serta mampu melaksanakan perencanaan tersebut.
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang harus dikuasai oleh guru sebagai manajer kelas antara lain sebagi berikut:
1) Membantu peserta didik menetapkan tujuan belajar dan menstimulasi peserta didik untuk mencapai yujuan belajar tersebut.
2) Merencanakan kegiatan belajar bersama peserta didiknya yang mencangkup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu, serta kondisi belajar.
3) Bertindak atau berperan sebagai penasehat bagi peserta didiknya bila diperlukan.
4) Membantu peserta didik menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Ini berarti, guru memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk memperbaiki dirinya sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan peserta didik dalam situasi pendidikan yang manusiawi.
3. Permasalahan Dalam Komponen Keterampilan Mengajar
Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan didalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis juga, yaitu yang menyangkut pengajaran dan yang menyangkut pengelolaan kelas. Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yangbersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya.
Masalah-masalah dalam pengelolaan kelas yang terjadi yaitu :
1. Masalah Individual
Adapun yang terdapat dalam masalah individual yaitu:
1) pola perilaku mencari perhatian
Contohnya seperti seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
2) pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan
contohnya seperti suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka.
3) pola perilaku menunjukkan balas dendam
contohnya seperti mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain.
4) peragaan ketidakmampuan
contohnya seperti merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.
Daftar rujukan
Syaiful, Aswan 2006.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: RIneka Cipta
Rukmana 2006.pengelolaan Kelas Bandung:UPi Press
1. Pengertian komponen keterampilan manjemen kelas
komponen keterampilan manajemen kelas adalah keseluruhan kemampuan yang dimiliki oleh guru dalam menyelesaikan tugasnya sebagai manajeman kelas
2. Macam-macam komponen keterampilan manajemen kelas
a) Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
Hubungan yang akrab dan sehat antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik yang lainnya menjadi suatu keharusan di dalam sebuah kelas. Hal ini dapat terwujud jika guru memiliki keterampilan secara pribadi yang dapat diciptakan antara lain dengan:
1) Menunjukkan kehangatan dan kepakaan terhadap kebutuhan peserta didik, baik dalam kelompok kelas maupun perorangan.
2) Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan oleh peserta didik.
3) Memberikan respon positif terhadap pemikiran peserta didiknya.
4) Membangun hubungan saling mempercayai.
5) Menunjukkan kesiapan untuk membantu peserta didik.
6) Menerima perasaan peserta didik dengan penuh pengertian dan terbuka.
7) Berusaha mengendalikan situasi hingga peserta didik merasa aman, penuh pemahaman, dan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
b) Keterampilan mengorganisasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, guru sebagai seorang manajer berperan sebagai organisator yag mengatur dan memonitori kegiatan belajar-mengajar dari awal dimulainya hingga akhir kegiatan. Keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai oelh guru agar bisa mengorganisasikan kegiatan belajar-mengajar antara lain:
1) Menjelaskan tujuan belajar yang akan dicapai kepada peserta didiknya.
2) Memvariasikan kegiatan yang mencangkup penyediaan ruangan, peralatan, dan cara menjelaskannya.
3) Membentuk komponen yang tepat.
4) Mengoordinasikan kegiatan belajar-mengajar kepada peserta didik, wali murid, dan kepala sekolah.
5) Membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan peserta didik.
6) Mengakhiri kegiatan belajar dengan laporan hasil yang akan dicapai oleh peserta didik.
c) Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu peserta didik untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai jika guru menguasai keterampilan berikut ini:
1) Memberikan penguatan sebagai kegiatan yang mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
2) Mengembangkan supervisi proses awal, yaitu sikap tanggap guru terhadap peserta didik baik secara individu maupun kelompok yang dapat memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan
3) Mengadakan supervisi proses lanjut yan memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung.
4) Mengadakan supervisi pemanduan yang memusatkan perhatian pada penilaian pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan belajar yang dilakukan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan sehingga peserta didik saling belajar dan memperoleh wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan menilai kemajuan peserta didik dan menyiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan akhir belajarnya.
d) Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar
Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar, baik secara perorangan maupun klasikal merupakan tugas utama guru. Itulah sebabnya guru harus mampu membuat perencanaan kegiatan belajar-mengajar yang tepat bagi setiap peserta didik dan seluruh peserta didik dalam sebuah kelas serta mampu melaksanakan perencanaan tersebut.
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang harus dikuasai oleh guru sebagai manajer kelas antara lain sebagi berikut:
1) Membantu peserta didik menetapkan tujuan belajar dan menstimulasi peserta didik untuk mencapai yujuan belajar tersebut.
2) Merencanakan kegiatan belajar bersama peserta didiknya yang mencangkup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu, serta kondisi belajar.
3) Bertindak atau berperan sebagai penasehat bagi peserta didiknya bila diperlukan.
4) Membantu peserta didik menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Ini berarti, guru memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk memperbaiki dirinya sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan peserta didik dalam situasi pendidikan yang manusiawi.
3. Permasalahan Dalam Komponen Keterampilan Mengajar
Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan didalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis juga, yaitu yang menyangkut pengajaran dan yang menyangkut pengelolaan kelas. Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yangbersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya.
Masalah-masalah dalam pengelolaan kelas yang terjadi yaitu :
1. Masalah Individual
Adapun yang terdapat dalam masalah individual yaitu:
1) pola perilaku mencari perhatian
Contohnya seperti seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
2) pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan
contohnya seperti suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka.
3) pola perilaku menunjukkan balas dendam
contohnya seperti mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain.
4) peragaan ketidakmampuan
contohnya seperti merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.
Daftar rujukan
Syaiful, Aswan 2006.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: RIneka Cipta
Rukmana 2006.pengelolaan Kelas Bandung:UPi Press
Tugas ke 4 Manajemen Kelas
A. Aspek-Aspek Manajemen Kelas
Adapun kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas yaitu:
1. Mengecek kehadiran siswa
Siswa dilihat keberadaannya satu persatuterutama diarahkan untuk melihat kesiapannya dalam mengikuti proses belajara mengajar.
2. Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaan tersebut
Pekerjaan atau tugas yang sudah diberikan hendaknya dengan cepat dikumpulkan dan diberikan komentar singkat sehingga rasa penghargaan yang tinggi dapat memberikan motivasi atas kerja yang sudah dilakukan.
3. Pendistribusian bahan dan alat
Apabila ada alat dan bahan belajar yang harus didistibusikan maka secara adil dan proposional setiap siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan praktik atau menggunakan alat dan bahan dalam proses belajaranya.
4. Mengumpulkan informasi dari siswa
Banyak sekali informasi yang berguna bagi guru dan bagi siwa itu sendiri yang dapat diperoleh dari siswa baik yang berupa informasi tentang pribadi siswa maupun yang berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan siswa yang harus dan sudah dikerjakan.
5. Mencatat data
Data-data siswa baik secara pewrorangan maupun kelompok yang menyangkut individu maupun pekerjaan sangat penting untuk dicatat karena akan mendukung guru dalam memberikan evaluasi akhir terhadap pencapaian hasil pekerjaan siswa tersebut.
6. Pemeliharaan arsip
Arsip-arsip tentang berbagai kegiatan dalam kelas harus disimpan didata denagan rapid an dipelihara sebagai tanggungjawab bersama sehingga dapat memberikan informasi baik bagi siswa maupun bagi guru.
7. Menyampaikan materi pembelajaran
Tugas utama dari guru adalah memeberikan informasi tentang bahan belajar yang harus dilakukan siswa dengan teratur dan dapat menggunakan berbagai media dan informasi yang ada dalam kelas.
8. Memberikan tugas /PR
Penugasan adalah proses memberikan tanggungjawab kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri dan dapat mengevaluasi kemampuan secar sendiri.
2. Fungsi Manajemen Kelas
Adapun fungsindari manajemen kelas yaitu:
1. Mmberi dan melengkapi fasilitas uuntuk segala macam tugas
Misalnya seperti, membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok.
2. Merencanakan
Yaitu memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan, dan tindakan sekaligus mengkaji berbbagai mnetode atau teknik yang sesduai atau yang tepat.
3. Mengorganisasikan
Yaitu menugaskan atau mengarahkan seorang atau kelompok orang dalam suatu tanggungjawab tugas dan fungsi tertentu.
4. Memimpin
Menjadi pemimpin itu harus memiliki sifat kepemimpinan dan keproibadian yang dapat menjadi panutan untuk orang lain serta harus tegas dan adil dalam bersikap.
5. Mengendalikan
Atau sama saja dengan memastikan bajhwa aktifitas sebenarnya sesuai dengan aktifitas yang direncanakan.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
Adapun faktor yang mempengaruhi manajemen kelas yaitu:
1. Kondisi fisik
Lingkungan fisik tempat belajar memepunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Adapun lingkungan fisik yang dimaksud adalah:
1) Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
2) Pengaturan tempat duduk
3) Ventilasi dan pengaturan cahaya
4) Pengaturan penyimpanan barang-barang
2. Kondisi sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyaipengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar menngajar. Kegiatan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Adapun kondisi sosio emosional meliputi:
1) Tipe kepemimpinan
2) Sikap guru
3) Suara guru
4) Pembinaan hubungan baik (report)
3. Kondisi organisasional
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas.adapun kegiatan rutinitas tersebut yaitu:
1) Penggantian pelajaran
2) Guru berhalangan hadir
3) Masalah antar siswa
4) Upacara bendera
Daftar pustaka
Syaiful Bahri.2000.Guru dan Anak DIdik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:RIneka cipta.
MUstakim,zaenal.3017.STrategi & Metode Pembelajaran.Pekalongan:ISIAn PRESS.
Adapun kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas yaitu:
1. Mengecek kehadiran siswa
Siswa dilihat keberadaannya satu persatuterutama diarahkan untuk melihat kesiapannya dalam mengikuti proses belajara mengajar.
2. Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaan tersebut
Pekerjaan atau tugas yang sudah diberikan hendaknya dengan cepat dikumpulkan dan diberikan komentar singkat sehingga rasa penghargaan yang tinggi dapat memberikan motivasi atas kerja yang sudah dilakukan.
3. Pendistribusian bahan dan alat
Apabila ada alat dan bahan belajar yang harus didistibusikan maka secara adil dan proposional setiap siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan praktik atau menggunakan alat dan bahan dalam proses belajaranya.
4. Mengumpulkan informasi dari siswa
Banyak sekali informasi yang berguna bagi guru dan bagi siwa itu sendiri yang dapat diperoleh dari siswa baik yang berupa informasi tentang pribadi siswa maupun yang berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan siswa yang harus dan sudah dikerjakan.
5. Mencatat data
Data-data siswa baik secara pewrorangan maupun kelompok yang menyangkut individu maupun pekerjaan sangat penting untuk dicatat karena akan mendukung guru dalam memberikan evaluasi akhir terhadap pencapaian hasil pekerjaan siswa tersebut.
6. Pemeliharaan arsip
Arsip-arsip tentang berbagai kegiatan dalam kelas harus disimpan didata denagan rapid an dipelihara sebagai tanggungjawab bersama sehingga dapat memberikan informasi baik bagi siswa maupun bagi guru.
7. Menyampaikan materi pembelajaran
Tugas utama dari guru adalah memeberikan informasi tentang bahan belajar yang harus dilakukan siswa dengan teratur dan dapat menggunakan berbagai media dan informasi yang ada dalam kelas.
8. Memberikan tugas /PR
Penugasan adalah proses memberikan tanggungjawab kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri dan dapat mengevaluasi kemampuan secar sendiri.
2. Fungsi Manajemen Kelas
Adapun fungsindari manajemen kelas yaitu:
1. Mmberi dan melengkapi fasilitas uuntuk segala macam tugas
Misalnya seperti, membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok.
2. Merencanakan
Yaitu memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan, dan tindakan sekaligus mengkaji berbbagai mnetode atau teknik yang sesduai atau yang tepat.
3. Mengorganisasikan
Yaitu menugaskan atau mengarahkan seorang atau kelompok orang dalam suatu tanggungjawab tugas dan fungsi tertentu.
4. Memimpin
Menjadi pemimpin itu harus memiliki sifat kepemimpinan dan keproibadian yang dapat menjadi panutan untuk orang lain serta harus tegas dan adil dalam bersikap.
5. Mengendalikan
Atau sama saja dengan memastikan bajhwa aktifitas sebenarnya sesuai dengan aktifitas yang direncanakan.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
Adapun faktor yang mempengaruhi manajemen kelas yaitu:
1. Kondisi fisik
Lingkungan fisik tempat belajar memepunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Adapun lingkungan fisik yang dimaksud adalah:
1) Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
2) Pengaturan tempat duduk
3) Ventilasi dan pengaturan cahaya
4) Pengaturan penyimpanan barang-barang
2. Kondisi sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyaipengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar menngajar. Kegiatan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Adapun kondisi sosio emosional meliputi:
1) Tipe kepemimpinan
2) Sikap guru
3) Suara guru
4) Pembinaan hubungan baik (report)
3. Kondisi organisasional
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas.adapun kegiatan rutinitas tersebut yaitu:
1) Penggantian pelajaran
2) Guru berhalangan hadir
3) Masalah antar siswa
4) Upacara bendera
Daftar pustaka
Syaiful Bahri.2000.Guru dan Anak DIdik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:RIneka cipta.
MUstakim,zaenal.3017.STrategi & Metode Pembelajaran.Pekalongan:ISIAn PRESS.
Sabtu, 24 Agustus 2019
Tugas 10 Prinsip-prinsip Disiplin dikelas
RINSIP-PRINSIP DISIPLIN DIKELAS
A. PENGERTIAN DISIPLIN
Dari segi etimologi kata “disiplin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “disicplus”yang mengandung makna pengikut atau penganut. Berdasarkan makna dari segi etimologi, disiplin diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk dalam peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Kata ”discipline” berasal dari bahasa latin menunjuk kepada belajar dan mengajar. Kata ini berasosiasi sangat dekat dengan isitilah ”disciple” yang mengikuti orang belajar dibawah pengawasan seorang pimpinan. Di dalam pembicaraan disiplin dikenal istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi terbentuknya satu sama lain merupakan urutan. Kedua istilah itu adalah disiplin dan ketertiban ada juga yang menggunakan istilah siasat dan ketertiban.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 237) disiplin berarti tata tertib atau ketaatan pada peraturan. Senada dengan itu ada beberapa pengertian disiplin menurut para ahli yaitu:
1. Asy Mas’udi (2000:88)
Menyatakan disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tata tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapu
2. The Liang Gie (1972)
Mengatakan disiplin suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Dalam dictionary of education mengarikan disiplin sebagai berikut:
a. Proses/hasil pengarahan/ pengendalian keinginan dorongan atau kepentingan guna mencapai maksud/ untuk mencapai tindakan yang lebih efektif.
b. Mencari tindakan terpilih dengan ulet, aktif dan diarahkan sendiri, meskipun menghadapi rintangan.
c. Pengendalian prilaku secara langsung dan otoriter dengan hukuman/ hadiah.
d. Pengekangan dorongan dengan cara yang tidak nyaman dan behkan menyakitkan
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah ketaatan dan ketepatan pada suatu aturan yang dilakukan secara sadar tanpa adanya dorongan atau paksaan pihak lain atau suatu keadaan di mana sesuatu itu berada dalam tertib, teratur dan semestinya serta tiada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ketertiban dilihat dari pengertiannya terbentuk lebih dulu baru kemudian disiplin.Ketertiban bersifat ekstrinsik sedangkan kedisiplinan lebih bersifat intrinsik. Ketertiban merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti aturan karena didorong oleh sesuatu yang datangnya dari luar, misalnya: karena ingin mendapatkan pujian. Sedangkan, disiplin menunjuk kepada kepatuhan seseorang terhadap peraturan atau tata tertib karena didorong oleh kesadaran yang ada dalam kata hatinya. Oleh karena itu, biasanya ketertiban itu lebih dulu, kemudian baru berkembang menjadi sikap disiplin.
Orang yang mengikuti peraturan disebabkan karena rasa takut, didesak oleh berbagai kepentingan, belum dapat dikatakan perbuatan disiplin. Misalnya, seorang pengendara sepeda motor selalu membawa helm tetapi tidak dikenakan dan baru dikenakan jika akan melewati daerah yang diperkirakan ada polisi. Perbuatan tersebut bukanlah perwujudan dari sikap disiplin. Lain halnya jika seseorang menyadari bahwa naik kendaraan bermotor penuh dengan resiko, bahaya dapat datang kapan saja tanpa diperhitungkan, maka demi menjaga keselamatannya, ia mengenakan helm walaupun ia menaiki di jalan pedesaan, maka ia termasuk orang yang memiliki disiplin diri yang tinggi.
Dari segi etimologi kata “disiplin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “disicplus”yang mengandung makna pengikut atau penganut. Berdasarkan makna dari segi etimologi, disiplin diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk dalam peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 237) disiplin berarti tata tertib atau ketaatan pada peraturan. Senada dengan itu ada beberapa pengertian disiplin menurut para ahli yaitu:
1. Asy Mas’udi (2000:88)
Menyatakan disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tata tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapun.
2. The Liang Gie (1972)
Mengatakan disiplin suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
B. Bentuk- Bentuk Disiplin Belajar Siswa
Disiplin siswa dalam menentukan dan menggunakan cara atau strategi belajar. Keberhasilan siswa dalam studinya dipengaruhi oleh cara belajarnya. Siswa yang memiliki cara belajar yang efektif memungkinkan untuk mencapai hasil atau prestasi yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak mempunyai cara belajar yang efektif.
Untuk belajar secara efektip dan efisien diperlukan kesadaran dan disiplin tinggi setiap siswa. Belajar secara efektip dan efisien dapat dilakukan oleh siswa yang berdisiplin. Siswa yang memiliki disiplin dalam belajarnya akan berusaha mengatur dan menggunakan strategi dan cara belajar yang tepat baginya. Jadi langkah pertama yang perlu dimiliki agar dapat belajar secara efektip dan efisien adalah kesadaran atas tanggung jawab pribadi dan keyakinan bahwa belajar adalah untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang menyatakan belajar akan lebih berhasil apabila kita memiliki :
1. Kesadaran atas tanggung jawab belajar,
Cara belajar yang efisien, Syarat-syarat yang diperlukan ( Oemar Hamalik,Metoda Belajar Dan Kesulitan-KesulitanBelajar(Bandung: Tarsito,2005)
Selain memiliki strategi belajar siswa yang tepat, siswa juga perlu memperhatikan metode atau cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dalam belajarnya. Seperti yang kita ketahui belajar bertujuan untuk mendapat pengetahuan, sikap, kecakapan dan keterampilan. Cara yang demikian itu jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan disiplin tinggi maka akan menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaan dalam belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Demikianlah cara-cara belajar yang perlu diperhatikan oleh setiap siswa, karena dengan memiliki cara belajar yang baik akan membantu siswa dalam mencapai prestasi yang tinggi, dan cara tersebut dapat dilaksanakan dengan baik secara teratur setiap hari, apabila siswa memiliki sikap disiplin. Jadi siswa yang pada dirinya tertanam sikap disiplin akan selalu mencari dan menentukan cara belajar yang tepat baginya.
2. Disiplin terhadap pemanfaatan waktu
Cara mengatur waktu belajarsebagai berikut:
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pelajar atau siswa adalah banyak pelajar atau siswa yang mengeluh kekuragan waktu untuk belajarnya, tetapi mereka sebenarnya kurang memiliki keteraturan dan disiplin untuk mempergunakan waktu secara efisien. Banyak waktu yang terbuang-buang disebabkan karna mengobrol omongan-omongan yang tidak habis-habisnnya. Sikap yang demikian itu harus ditinggalkan oleh siswa karena yang demikian itu tidak bermanfaat baginya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya. Dalam ajaran islam disiplin dalam pemanfaatan waktu sangat dianjurkan, disiplin bukan hanya dalam pemanfaatan waktu belajar saja, tetapi disiplin perlu juga dilakukan oleh setiap orang dalam setiap waktu dan kesempatan.
Dalam belajar pemanfaatan waktu secara baik dan dikerjakan dengan baik dan tepat waktu adalah merupakan hal yang terpuji. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa penggunaan atau pamanfaatan waktu dangan baik menumbuhkan disiplin dalam mempergunakan waktu secara efisien.
3. Pengelompokan waktu.
Banyak siswa yang belajarnya kurang dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya karena tidak membagi-bagi waktunya untuk macam-macam keperluan, oleh karna itu, berbagai segi dan teknik untuk mengatur pemakaian waktu perlu dipahami sebagai langkah untuk mengembangkan keterampilan mengelola waktu studi.
4. Penjatahan waktu belajar.
Setiap siswa perlu mengadakan prinsip belajar secara taratur.dan untuk belajar secara teratur setiap hari harus mempunyai rencana kerja. Agar siswa tidak bayak membuang waktu untuk memikirkan mata pelajaran yang akan dipekajari suatu saat dan apa yang harus dikerjakannya. Oleh karna itu agar siswa tidak dihinggapi keraguan-keraguan terhadap apa yang hendak dipelajarinya maka ia harus punya rencana kerja atau daftar waktu dalam belajar.
Adapun cara untuk membuat jadwal yang baik adalah sebagai berikut
a. Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperlua-keperluan tidur, belajar, makan, mandi, olah raga dan lain-lain.
b. Menyelidiki dan menentukan waktu-waktu yang tersedia setiap hari.
c. Merencanakan peggunaan belajar itu dengan cara menetapkan jenis-jenis mata pelajaran dan urutan-urutan yang harus dipelajari.
d. Menyelidiki waktu-waktu mana yang dapat dipergunakan untuk belajar dengan hasil terbaik.
e. Berhematlah dengan waktu, setiap siwa janganlah ragu untuk memulai pekerjaan, termasuk juga belajar.
5. Disiplin terhadap tugas.
a. Mengerjakan tugas rumah sebagai berikut :
Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan. Sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa : ”Mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ulangan atau ujian yang diberikan guru, tetapi juga termasuk membuat atau mengerjakan latihan-latihan yang ada dalam buku ataupun soal-soal buatan sendiri”(Slameto, Belajar Dan Faktor-Fakto yang Mempengaruhinya(Jakarta: Rineka Cipta,2003)
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka, tugas itu dapat berupa tes atau ulangan dan juga dapat berupa latihan-latihan soal atau pekerjaan rumah.jika siswa mempunyai kebiasaan untuk melatih diri mengerjakan soal-soal latihan serta mengerjakan pekerjaan rumah dengan disiplin, maka siswa tersebut tidak akan terlalu kesulitan dalam belajarnya, serta dapat dengan mudah mengerjakan setiap pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru.
b. Mengerjakan tugas di sekolah
Adapun tugas di sekolah mencakup mengerjakan latihan-latihan tes atau ulangan harian, ulangan umum ataupun ujian, baik yang tertulis maupun lisan. Dalam menghadapi tugas-tugas di atas perlu dilaksanakan langkah-langkah persiapan sebagai berikut :
1) Hindarilah belajar terlalu banyak pada saat-saat terahir mengerjakan tes (semua bahan hendaknya sudah siap jauh-jauh sebelumnya).
2) Pelajarilah kembali bahan yang sudah pernah didapat secara teratur sehari atau dua hari sebelumnya.
3) Buatlah suatu ringkasan atau garis besar tentang bahan yang sedang dipelajari kembali itu.
4) Pelajarilah juga latihan soal dan hasil tugas yang sudah pernah dikerjakan.
5) Peliharalah kondisi kesehatan.
6) Konsentrasikan seluruh perhatian terhadap tugas yang akan ditempuh.
7) Siapkanlah segala alat atau perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan dan jika diperlukan syarat-syarat tertentu, bereskanlah seawal mungkin
Daftar rujukan
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi. (1995). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
A. PENGERTIAN DISIPLIN
Dari segi etimologi kata “disiplin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “disicplus”yang mengandung makna pengikut atau penganut. Berdasarkan makna dari segi etimologi, disiplin diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk dalam peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Kata ”discipline” berasal dari bahasa latin menunjuk kepada belajar dan mengajar. Kata ini berasosiasi sangat dekat dengan isitilah ”disciple” yang mengikuti orang belajar dibawah pengawasan seorang pimpinan. Di dalam pembicaraan disiplin dikenal istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi terbentuknya satu sama lain merupakan urutan. Kedua istilah itu adalah disiplin dan ketertiban ada juga yang menggunakan istilah siasat dan ketertiban.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 237) disiplin berarti tata tertib atau ketaatan pada peraturan. Senada dengan itu ada beberapa pengertian disiplin menurut para ahli yaitu:
1. Asy Mas’udi (2000:88)
Menyatakan disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tata tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapu
2. The Liang Gie (1972)
Mengatakan disiplin suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Dalam dictionary of education mengarikan disiplin sebagai berikut:
a. Proses/hasil pengarahan/ pengendalian keinginan dorongan atau kepentingan guna mencapai maksud/ untuk mencapai tindakan yang lebih efektif.
b. Mencari tindakan terpilih dengan ulet, aktif dan diarahkan sendiri, meskipun menghadapi rintangan.
c. Pengendalian prilaku secara langsung dan otoriter dengan hukuman/ hadiah.
d. Pengekangan dorongan dengan cara yang tidak nyaman dan behkan menyakitkan
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah ketaatan dan ketepatan pada suatu aturan yang dilakukan secara sadar tanpa adanya dorongan atau paksaan pihak lain atau suatu keadaan di mana sesuatu itu berada dalam tertib, teratur dan semestinya serta tiada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ketertiban dilihat dari pengertiannya terbentuk lebih dulu baru kemudian disiplin.Ketertiban bersifat ekstrinsik sedangkan kedisiplinan lebih bersifat intrinsik. Ketertiban merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti aturan karena didorong oleh sesuatu yang datangnya dari luar, misalnya: karena ingin mendapatkan pujian. Sedangkan, disiplin menunjuk kepada kepatuhan seseorang terhadap peraturan atau tata tertib karena didorong oleh kesadaran yang ada dalam kata hatinya. Oleh karena itu, biasanya ketertiban itu lebih dulu, kemudian baru berkembang menjadi sikap disiplin.
Orang yang mengikuti peraturan disebabkan karena rasa takut, didesak oleh berbagai kepentingan, belum dapat dikatakan perbuatan disiplin. Misalnya, seorang pengendara sepeda motor selalu membawa helm tetapi tidak dikenakan dan baru dikenakan jika akan melewati daerah yang diperkirakan ada polisi. Perbuatan tersebut bukanlah perwujudan dari sikap disiplin. Lain halnya jika seseorang menyadari bahwa naik kendaraan bermotor penuh dengan resiko, bahaya dapat datang kapan saja tanpa diperhitungkan, maka demi menjaga keselamatannya, ia mengenakan helm walaupun ia menaiki di jalan pedesaan, maka ia termasuk orang yang memiliki disiplin diri yang tinggi.
Dari segi etimologi kata “disiplin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “disicplus”yang mengandung makna pengikut atau penganut. Berdasarkan makna dari segi etimologi, disiplin diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk dalam peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 237) disiplin berarti tata tertib atau ketaatan pada peraturan. Senada dengan itu ada beberapa pengertian disiplin menurut para ahli yaitu:
1. Asy Mas’udi (2000:88)
Menyatakan disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tata tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapun.
2. The Liang Gie (1972)
Mengatakan disiplin suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
B. Bentuk- Bentuk Disiplin Belajar Siswa
Disiplin siswa dalam menentukan dan menggunakan cara atau strategi belajar. Keberhasilan siswa dalam studinya dipengaruhi oleh cara belajarnya. Siswa yang memiliki cara belajar yang efektif memungkinkan untuk mencapai hasil atau prestasi yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak mempunyai cara belajar yang efektif.
Untuk belajar secara efektip dan efisien diperlukan kesadaran dan disiplin tinggi setiap siswa. Belajar secara efektip dan efisien dapat dilakukan oleh siswa yang berdisiplin. Siswa yang memiliki disiplin dalam belajarnya akan berusaha mengatur dan menggunakan strategi dan cara belajar yang tepat baginya. Jadi langkah pertama yang perlu dimiliki agar dapat belajar secara efektip dan efisien adalah kesadaran atas tanggung jawab pribadi dan keyakinan bahwa belajar adalah untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang menyatakan belajar akan lebih berhasil apabila kita memiliki :
1. Kesadaran atas tanggung jawab belajar,
Cara belajar yang efisien, Syarat-syarat yang diperlukan ( Oemar Hamalik,Metoda Belajar Dan Kesulitan-KesulitanBelajar(Bandung: Tarsito,2005)
Selain memiliki strategi belajar siswa yang tepat, siswa juga perlu memperhatikan metode atau cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dalam belajarnya. Seperti yang kita ketahui belajar bertujuan untuk mendapat pengetahuan, sikap, kecakapan dan keterampilan. Cara yang demikian itu jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan disiplin tinggi maka akan menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaan dalam belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Demikianlah cara-cara belajar yang perlu diperhatikan oleh setiap siswa, karena dengan memiliki cara belajar yang baik akan membantu siswa dalam mencapai prestasi yang tinggi, dan cara tersebut dapat dilaksanakan dengan baik secara teratur setiap hari, apabila siswa memiliki sikap disiplin. Jadi siswa yang pada dirinya tertanam sikap disiplin akan selalu mencari dan menentukan cara belajar yang tepat baginya.
2. Disiplin terhadap pemanfaatan waktu
Cara mengatur waktu belajarsebagai berikut:
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pelajar atau siswa adalah banyak pelajar atau siswa yang mengeluh kekuragan waktu untuk belajarnya, tetapi mereka sebenarnya kurang memiliki keteraturan dan disiplin untuk mempergunakan waktu secara efisien. Banyak waktu yang terbuang-buang disebabkan karna mengobrol omongan-omongan yang tidak habis-habisnnya. Sikap yang demikian itu harus ditinggalkan oleh siswa karena yang demikian itu tidak bermanfaat baginya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya. Dalam ajaran islam disiplin dalam pemanfaatan waktu sangat dianjurkan, disiplin bukan hanya dalam pemanfaatan waktu belajar saja, tetapi disiplin perlu juga dilakukan oleh setiap orang dalam setiap waktu dan kesempatan.
Dalam belajar pemanfaatan waktu secara baik dan dikerjakan dengan baik dan tepat waktu adalah merupakan hal yang terpuji. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa penggunaan atau pamanfaatan waktu dangan baik menumbuhkan disiplin dalam mempergunakan waktu secara efisien.
3. Pengelompokan waktu.
Banyak siswa yang belajarnya kurang dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya karena tidak membagi-bagi waktunya untuk macam-macam keperluan, oleh karna itu, berbagai segi dan teknik untuk mengatur pemakaian waktu perlu dipahami sebagai langkah untuk mengembangkan keterampilan mengelola waktu studi.
4. Penjatahan waktu belajar.
Setiap siswa perlu mengadakan prinsip belajar secara taratur.dan untuk belajar secara teratur setiap hari harus mempunyai rencana kerja. Agar siswa tidak bayak membuang waktu untuk memikirkan mata pelajaran yang akan dipekajari suatu saat dan apa yang harus dikerjakannya. Oleh karna itu agar siswa tidak dihinggapi keraguan-keraguan terhadap apa yang hendak dipelajarinya maka ia harus punya rencana kerja atau daftar waktu dalam belajar.
Adapun cara untuk membuat jadwal yang baik adalah sebagai berikut
a. Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperlua-keperluan tidur, belajar, makan, mandi, olah raga dan lain-lain.
b. Menyelidiki dan menentukan waktu-waktu yang tersedia setiap hari.
c. Merencanakan peggunaan belajar itu dengan cara menetapkan jenis-jenis mata pelajaran dan urutan-urutan yang harus dipelajari.
d. Menyelidiki waktu-waktu mana yang dapat dipergunakan untuk belajar dengan hasil terbaik.
e. Berhematlah dengan waktu, setiap siwa janganlah ragu untuk memulai pekerjaan, termasuk juga belajar.
5. Disiplin terhadap tugas.
a. Mengerjakan tugas rumah sebagai berikut :
Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan. Sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa : ”Mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ulangan atau ujian yang diberikan guru, tetapi juga termasuk membuat atau mengerjakan latihan-latihan yang ada dalam buku ataupun soal-soal buatan sendiri”(Slameto, Belajar Dan Faktor-Fakto yang Mempengaruhinya(Jakarta: Rineka Cipta,2003)
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka, tugas itu dapat berupa tes atau ulangan dan juga dapat berupa latihan-latihan soal atau pekerjaan rumah.jika siswa mempunyai kebiasaan untuk melatih diri mengerjakan soal-soal latihan serta mengerjakan pekerjaan rumah dengan disiplin, maka siswa tersebut tidak akan terlalu kesulitan dalam belajarnya, serta dapat dengan mudah mengerjakan setiap pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru.
b. Mengerjakan tugas di sekolah
Adapun tugas di sekolah mencakup mengerjakan latihan-latihan tes atau ulangan harian, ulangan umum ataupun ujian, baik yang tertulis maupun lisan. Dalam menghadapi tugas-tugas di atas perlu dilaksanakan langkah-langkah persiapan sebagai berikut :
1) Hindarilah belajar terlalu banyak pada saat-saat terahir mengerjakan tes (semua bahan hendaknya sudah siap jauh-jauh sebelumnya).
2) Pelajarilah kembali bahan yang sudah pernah didapat secara teratur sehari atau dua hari sebelumnya.
3) Buatlah suatu ringkasan atau garis besar tentang bahan yang sedang dipelajari kembali itu.
4) Pelajarilah juga latihan soal dan hasil tugas yang sudah pernah dikerjakan.
5) Peliharalah kondisi kesehatan.
6) Konsentrasikan seluruh perhatian terhadap tugas yang akan ditempuh.
7) Siapkanlah segala alat atau perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan dan jika diperlukan syarat-syarat tertentu, bereskanlah seawal mungkin
Daftar rujukan
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi. (1995). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Tugas 9 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
A.Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu
1.faktor intern
Faktor interen adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor ini meliputi,
2. faktoaktor jasmani
Proses seorang siswa akan terganggu jika kesehatan siswa tersebut terganggu selain itu juga ia akan cepat lelah kurang bersemangat dan lain-lain, demikian juga apabila ia cacat tubuh.
b. Faktor psikologis
1.ntelegensi
Dalam situasi yang sama, siswa mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil kendatipun begitu, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajar. Hal ini disebabkan belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Siswa yang memiliki tingkat intelegensi normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar jika kondisi yang diciptakan mendukung terjadi pembelajaran yang efektif dan efisien.
2.Perhatian
Untuk menjamin hasil belajar yang baik. Siswa harus mempunyai perhatian yang penuh terhadap bahan yang dipelajarinya. Untuk tumbuh perhatian maka bahan pelajaran itu harus baik.
3. Minat
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Bila pelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak dapat belajar dengan sebaik-baiknya minat anak dapat ditumbuhkan dengan berbagai macam cara yaitu dengan memvariasikan media pembelajaran. Mengembangkan metode pembelajaran, menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan dan lain-lain
4. Bakat
Jika bahan pelajaran yang dipelajari oleh siswa berbakat maka pelajaran itu akan cepat dikuasai, sehingga hasil pelajaran nya pun akan baik, lain terhadap anak yang kurang berbakat, guru harus bersabar dan telaten melayani mereka yaitu dengan sering mengulangi/menjelaskan bahan, akhirnya siswa/I itu diharapkan akan dengan menguasai bahan yang diajarkan
5. Motif
Proses belajar mengajar harus memperhatikan motif belajar siswa atau faktor-faktor yang mendorong belajar siswa maka dengan guru dapat mengajak para siswa untuk berfikir dan memusatkan perhatian terhadap pembelajaran dan merencanakan melaksanakan kegiatan yang berhubungan serta menunjang belajar
6. Kematangan
Kematangan adalah fase pertumbuhan sekarang. Kematangan belum berarti siswa dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus agar kematangan itu dapat dikembangkan pada diri siswa maka perlu di ciptakan suatu kondisi yang memungkinkan kematangan itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara memberikan latihan ynag terus menerus dan konsisten, pemberian tugs yang bertingkat dan berkesinambungan dari sederhana ke kompleks
C. Faktor Kelelahan
Kelelahan baik jasmani maupun rohani dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar.Oleh karena itu guru harus memberikan pengertian kepada siswa agar menghindari terjadinya kelelahan dalam belajar dengan cara para siswa diberi penjelasan agar mereka mengusahakan tidur dan istirahat yang cukup dan teratur, mengusahakan variasi dalam belajar. Oleh raga yang cukup
2 faktor eksternal
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu,
1. Faktor keluarga
Para siswa yang sedang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa11
1 carara orang tua mendidik sikap dan perhatian orang tua
2. Berhubungan antar keluarga
3. Suasana rumah
3 keadaan ekonomi
Latar belakang kebudayaan orang tua
b. Faktor sekolah
Yang mempengaruhi, belajar meliputi hal-hal yang berkaitan dengan metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, siswa dengan siswa, disiplin sekolah, peralatan, waktu sekolah, metode pembelajaran, tugas sekolah.
Masyarakat
c.masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap perkembangan pribadi siswa yang pada akhirnya mempengaruhi terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor ini banyak kaitan dengan
Kegiatan siswa dalam masyarakat
Media yang beredar dalam masyarakat
Pengaruh teman bergaul
Pola hidup masyarakat
B. Mengatur kondisi kelas dan iklim belajar siswa
a. Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran
Guru sebagai seorang pengajar/pendidik harus dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu perkembangan pendidikan para peserta didik. Melalui teknik motivasi yang akurat, guru dapat memberikan kontribusi iklim kelas yang sehat, kondisi dan lingkungan hendaknya menjadi perhatian dan kepedulian guru agar siswa dapat belajar secara optimal. Kondisi dan lingkungan yang perlu menjadi perhatian dalam menunjang terciptanya pembelajaran sebagai berikut :
a). Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran
Ruang tempat belajar harus memungkinkan para peserta didik dapat bergerak leluasa tidak berdesak-desakan sehingga tidak saling menggangu satu sama lainnya pada saat terjadi aktivitas pembelajaran
Besarnya ruang kelas sangat tergantung pada berbagai hal antara lain.
Jenis kegiatan (kegiatan pertemuan tatap muka klasikal dalam kelas atau bekerja dengan praktikum)
Jumlah siswa yang melakukan kegiatan
Jika ruangan yang dipakai teratur mempergunakan hiasan, pakailah hiasan yang mempunyai nilai pendidikan dapat secara langsung memberi daya terapi bagi anak-anak pelanggar disiplin
b. Pengaturan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka dengan posisi it, guru sekaligus dapat mengontrol tingkah laku para peserta didiknya pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran pengaturan proses pembelajaran. Beberapa kemungkinan dalam pengaturan tempat duduk seperti dibawah ini.
1.pola deret atau berbaris, berjajar
Pengaturan seperti ini adalah pengaturan yang sangat populer pada umumnya tempat duduk siswa diatur menurut tinggi pendeknya siswa pada situasi tertentu misalnya, jika ada siswa yang tidak dapat melihat jarak atau pendengaran yang agak kurang atau banyak berbuat gaduh maka orang yang seperti ini didudukkan di deretan depan, tanpa menghiraukan tinggi rendahnya siswa
2.pola susunan kelompok
Cara ini memungkinkan siswa dapat berkomunikasi dengan mudah antara satu dengan yang lainnya dan dapat berpindah dari satu kelompok lain secara bebas. Pola ini memudahkan siswa untuk bekerja sama dan saling menolong satu sama lain.
3. Pola formasi tepal kuda
Pola ini menempatkan posisi guru berada ditentang-tengah para siswa. Pola ini di pakai jika banyak memerlukan diskusi antar siswa atau dengan guru. Pengaturan seperti ini memberi kemudahan kepada para siswa untuk saling berkomunikasi dan berkonsultasi.
4.pola lingkaran atau persegi
Pola pengaturan seperti ini baik juga untuk mengajar yang disajikan dengan metode diskusi. Otoritas guru sama sekali tidak berpusat dan kepemimpinan formal tidak berperan sama sekali
c) ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendatipun guru sulit mengaturnya tapi sudah tersedia ) adalah aset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman, oleh karena itu ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
d)engaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan kegiatan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat di simpan di ruang kelas seperti buku belajar, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan lain sebagainya.
C. Kondisi Yang Mempengaruhi Penciptaan Iklim Kelas
1. Kondisi Sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi :
a. Tipe kepemimpinan
Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis, laisez faire atau demokratis.Kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik.Tipe kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melakat pada guru ketika berada dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru melaksanakan peran sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas. Apakah gaya otoriter segala sesuatunya diatur dan diarahkan oleh sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik antara guru dan murid sesuai dengan peranannya masing-masing.
b. Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangat sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya. sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan kelas atau di luar kelas yang akan mempengaruhi mood anak, apakah anak merasa tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik. Sikap yang baik sebagai seorang guru, bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang memberikan bimbingan tentunya adalah hal yang paling baik diperlihatkan
c.suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi atau malah terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.
d. Pembinaan hubungan baik (raport)
Pembinaan hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting.Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya. Pembinaan hubungan baik, hubungan antara guru dengan murid harus dibangun berdasarkan fungsi masing-masing dalam konteks belajar mengajar dikelas, akan tetapi apabila memungkinkan dapat juga dibangun sifat-sifat kekeluargaan dan keakraban yang menyebabkan siswa merasa nyaman dan aman berhubungan seperti dengan ibu dan bapaknya dirumah.
e ondisi Organisasional
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada semua siswa secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Di samping itu mereka akan terbiasa bertingkah laku secara teratur dan penuh disiplin pada semua kegiatan yang bersifat rutin itu. Kegiatan rutinitas tersebut anatar lain:
a). Pergantian pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam pelajaran harus disikapi oleh guru karena dalam proses ini ada jeda (kekosongan) yang memungkinkan terjadinya interaksi yang tidak diharapkan dari siswa dengan siswa lainnya. Perlu disikapi dengan arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat karena guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa jeda itu terlalu lama.
b).Guru berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan menyebabkan terjadinya kekosongan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghindari terjadinya keributan atau perilaku-perilaku yang tidak diharapkan dari siswa seperti berlarian kesanaha kemari menggangu kelas lain, dan menimbulkan kerusakan pada fasilitaskelas, maka guru piket harus paham apa yang terjadi dan mempersiapkan diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut.
c).Masalah antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi karena kondisi emosional yang tidak terkendali dan tidak terorganisasikan oleh guru. Guru harus memahami karakteristik dan potensi guru sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku masing-masing dan menekan munculnya konflik diantaranya.
Upacara bendera, pada saat upacara bendera siswa harus diorganisasikan berdasarkan tingkatan kelas sehingga mereka dapat tertib mengikuti kegiatan upacara bendera.
d)egiatan lain ; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian informasi dari sekolah kepada guru dan siswa, peraturan sekolah yang baru, kegiatan rekreasi dan social.
Daftar rujukan
Depdikbud 2000.PEngelolaan kelas. Jakarta: direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Dirjen PUOD dan Dirjen 2006. Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar. Seri Peningkatan Mutu 2. Jakarta: Depdagri Depdikbud.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu
1.faktor intern
Faktor interen adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor ini meliputi,
2. faktoaktor jasmani
Proses seorang siswa akan terganggu jika kesehatan siswa tersebut terganggu selain itu juga ia akan cepat lelah kurang bersemangat dan lain-lain, demikian juga apabila ia cacat tubuh.
b. Faktor psikologis
1.ntelegensi
Dalam situasi yang sama, siswa mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil kendatipun begitu, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajar. Hal ini disebabkan belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Siswa yang memiliki tingkat intelegensi normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar jika kondisi yang diciptakan mendukung terjadi pembelajaran yang efektif dan efisien.
2.Perhatian
Untuk menjamin hasil belajar yang baik. Siswa harus mempunyai perhatian yang penuh terhadap bahan yang dipelajarinya. Untuk tumbuh perhatian maka bahan pelajaran itu harus baik.
3. Minat
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Bila pelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak dapat belajar dengan sebaik-baiknya minat anak dapat ditumbuhkan dengan berbagai macam cara yaitu dengan memvariasikan media pembelajaran. Mengembangkan metode pembelajaran, menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan dan lain-lain
4. Bakat
Jika bahan pelajaran yang dipelajari oleh siswa berbakat maka pelajaran itu akan cepat dikuasai, sehingga hasil pelajaran nya pun akan baik, lain terhadap anak yang kurang berbakat, guru harus bersabar dan telaten melayani mereka yaitu dengan sering mengulangi/menjelaskan bahan, akhirnya siswa/I itu diharapkan akan dengan menguasai bahan yang diajarkan
5. Motif
Proses belajar mengajar harus memperhatikan motif belajar siswa atau faktor-faktor yang mendorong belajar siswa maka dengan guru dapat mengajak para siswa untuk berfikir dan memusatkan perhatian terhadap pembelajaran dan merencanakan melaksanakan kegiatan yang berhubungan serta menunjang belajar
6. Kematangan
Kematangan adalah fase pertumbuhan sekarang. Kematangan belum berarti siswa dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus agar kematangan itu dapat dikembangkan pada diri siswa maka perlu di ciptakan suatu kondisi yang memungkinkan kematangan itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara memberikan latihan ynag terus menerus dan konsisten, pemberian tugs yang bertingkat dan berkesinambungan dari sederhana ke kompleks
C. Faktor Kelelahan
Kelelahan baik jasmani maupun rohani dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar.Oleh karena itu guru harus memberikan pengertian kepada siswa agar menghindari terjadinya kelelahan dalam belajar dengan cara para siswa diberi penjelasan agar mereka mengusahakan tidur dan istirahat yang cukup dan teratur, mengusahakan variasi dalam belajar. Oleh raga yang cukup
2 faktor eksternal
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu,
1. Faktor keluarga
Para siswa yang sedang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa11
1 carara orang tua mendidik sikap dan perhatian orang tua
2. Berhubungan antar keluarga
3. Suasana rumah
3 keadaan ekonomi
Latar belakang kebudayaan orang tua
b. Faktor sekolah
Yang mempengaruhi, belajar meliputi hal-hal yang berkaitan dengan metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, siswa dengan siswa, disiplin sekolah, peralatan, waktu sekolah, metode pembelajaran, tugas sekolah.
Masyarakat
c.masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap perkembangan pribadi siswa yang pada akhirnya mempengaruhi terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor ini banyak kaitan dengan
Kegiatan siswa dalam masyarakat
Media yang beredar dalam masyarakat
Pengaruh teman bergaul
Pola hidup masyarakat
B. Mengatur kondisi kelas dan iklim belajar siswa
a. Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran
Guru sebagai seorang pengajar/pendidik harus dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu perkembangan pendidikan para peserta didik. Melalui teknik motivasi yang akurat, guru dapat memberikan kontribusi iklim kelas yang sehat, kondisi dan lingkungan hendaknya menjadi perhatian dan kepedulian guru agar siswa dapat belajar secara optimal. Kondisi dan lingkungan yang perlu menjadi perhatian dalam menunjang terciptanya pembelajaran sebagai berikut :
a). Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran
Ruang tempat belajar harus memungkinkan para peserta didik dapat bergerak leluasa tidak berdesak-desakan sehingga tidak saling menggangu satu sama lainnya pada saat terjadi aktivitas pembelajaran
Besarnya ruang kelas sangat tergantung pada berbagai hal antara lain.
Jenis kegiatan (kegiatan pertemuan tatap muka klasikal dalam kelas atau bekerja dengan praktikum)
Jumlah siswa yang melakukan kegiatan
Jika ruangan yang dipakai teratur mempergunakan hiasan, pakailah hiasan yang mempunyai nilai pendidikan dapat secara langsung memberi daya terapi bagi anak-anak pelanggar disiplin
b. Pengaturan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka dengan posisi it, guru sekaligus dapat mengontrol tingkah laku para peserta didiknya pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran pengaturan proses pembelajaran. Beberapa kemungkinan dalam pengaturan tempat duduk seperti dibawah ini.
1.pola deret atau berbaris, berjajar
Pengaturan seperti ini adalah pengaturan yang sangat populer pada umumnya tempat duduk siswa diatur menurut tinggi pendeknya siswa pada situasi tertentu misalnya, jika ada siswa yang tidak dapat melihat jarak atau pendengaran yang agak kurang atau banyak berbuat gaduh maka orang yang seperti ini didudukkan di deretan depan, tanpa menghiraukan tinggi rendahnya siswa
2.pola susunan kelompok
Cara ini memungkinkan siswa dapat berkomunikasi dengan mudah antara satu dengan yang lainnya dan dapat berpindah dari satu kelompok lain secara bebas. Pola ini memudahkan siswa untuk bekerja sama dan saling menolong satu sama lain.
3. Pola formasi tepal kuda
Pola ini menempatkan posisi guru berada ditentang-tengah para siswa. Pola ini di pakai jika banyak memerlukan diskusi antar siswa atau dengan guru. Pengaturan seperti ini memberi kemudahan kepada para siswa untuk saling berkomunikasi dan berkonsultasi.
4.pola lingkaran atau persegi
Pola pengaturan seperti ini baik juga untuk mengajar yang disajikan dengan metode diskusi. Otoritas guru sama sekali tidak berpusat dan kepemimpinan formal tidak berperan sama sekali
c) ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendatipun guru sulit mengaturnya tapi sudah tersedia ) adalah aset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman, oleh karena itu ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
d)engaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan kegiatan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat di simpan di ruang kelas seperti buku belajar, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan lain sebagainya.
C. Kondisi Yang Mempengaruhi Penciptaan Iklim Kelas
1. Kondisi Sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi :
a. Tipe kepemimpinan
Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis, laisez faire atau demokratis.Kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik.Tipe kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melakat pada guru ketika berada dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru melaksanakan peran sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas. Apakah gaya otoriter segala sesuatunya diatur dan diarahkan oleh sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik antara guru dan murid sesuai dengan peranannya masing-masing.
b. Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangat sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya. sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan kelas atau di luar kelas yang akan mempengaruhi mood anak, apakah anak merasa tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik. Sikap yang baik sebagai seorang guru, bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang memberikan bimbingan tentunya adalah hal yang paling baik diperlihatkan
c.suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi atau malah terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.
d. Pembinaan hubungan baik (raport)
Pembinaan hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting.Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya. Pembinaan hubungan baik, hubungan antara guru dengan murid harus dibangun berdasarkan fungsi masing-masing dalam konteks belajar mengajar dikelas, akan tetapi apabila memungkinkan dapat juga dibangun sifat-sifat kekeluargaan dan keakraban yang menyebabkan siswa merasa nyaman dan aman berhubungan seperti dengan ibu dan bapaknya dirumah.
e ondisi Organisasional
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada semua siswa secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Di samping itu mereka akan terbiasa bertingkah laku secara teratur dan penuh disiplin pada semua kegiatan yang bersifat rutin itu. Kegiatan rutinitas tersebut anatar lain:
a). Pergantian pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam pelajaran harus disikapi oleh guru karena dalam proses ini ada jeda (kekosongan) yang memungkinkan terjadinya interaksi yang tidak diharapkan dari siswa dengan siswa lainnya. Perlu disikapi dengan arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat karena guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa jeda itu terlalu lama.
b).Guru berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan menyebabkan terjadinya kekosongan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghindari terjadinya keributan atau perilaku-perilaku yang tidak diharapkan dari siswa seperti berlarian kesanaha kemari menggangu kelas lain, dan menimbulkan kerusakan pada fasilitaskelas, maka guru piket harus paham apa yang terjadi dan mempersiapkan diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut.
c).Masalah antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi karena kondisi emosional yang tidak terkendali dan tidak terorganisasikan oleh guru. Guru harus memahami karakteristik dan potensi guru sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku masing-masing dan menekan munculnya konflik diantaranya.
Upacara bendera, pada saat upacara bendera siswa harus diorganisasikan berdasarkan tingkatan kelas sehingga mereka dapat tertib mengikuti kegiatan upacara bendera.
d)egiatan lain ; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian informasi dari sekolah kepada guru dan siswa, peraturan sekolah yang baru, kegiatan rekreasi dan social.
Daftar rujukan
Depdikbud 2000.PEngelolaan kelas. Jakarta: direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Dirjen PUOD dan Dirjen 2006. Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar. Seri Peningkatan Mutu 2. Jakarta: Depdagri Depdikbud.
Tugas 8 Latar Belakang Masalah Manajemen Kelas
A. Latar belakang MASALAH PADA Manajemen Kelas
Suasana sekolah pada umumnya dan suasana kelas pada khususnya merupakan modal penting bagi jernihnya pikiran untuk mengikuti pelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan suatu keadaaan yang menyenangkan demi meningkatkan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan pelajaran, untuk mengatasinya dibutuhkan manajemen kelas yaitu penanganan yang baik agar dalam kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Kelas merupakan suatu tempat anak belajar untuk mendapatkan ilmu, berinteraksi dengan teman serta pembentukan pribadi yang baik. Kegiatan belajar siswa yang berada di sekolah diharapkan harus intens untuk berada di kelas. Dalam lingkup kelas terdiri dari siswa yang dapat ditinjau dari cara belajar mereka, karakter siswa, hubungan sosial, kedisiplinan, tanggung jawab dalam proses belajar mengajar.
Guru sebagai pengelola kelas, dalam perannya, guru hendaknya mampu mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di organisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan - kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Salah satu manajemen kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya kepada 2 guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatannya sendiri, sebagai manajer, guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil optimal. Menurut Popi Sopiatin (2010: 48). Ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif adalah sebagai berikut: 1. memulai pelajaran tepat waktu
2. Menata Tempat duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antara format dan jam pelajaran
3. Mengatasi gangguan dari luar
4. Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas dan dapat di laksanakan dengan konsisten
5. Peralihan yang mulus antar segmen pelajaran
6. KSiswa yang berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung 7 7. pemberian pekerjaan rumah
8. Mempertahankan momentum selama pelajaran
9. Downtime, kelebihan waktu yang dimiliki oleh siswa pada saat melakukan tugas - tugas dalam proses belajar mengajar.
10. Mengakhiri pelajaran Suasana kelas yang kondusif dapat menghasilkan pembelajaran yang sebaik mungkin.
Hasil belajar yang baik akan membantu mengembangkan motivasi belajar. Keadaan motivasi belajar yang baik mendorong siswa untuk menerima pelajaran dengan baik, selain itu dapat mengembangkan 3 inisiatif (belajar sendiri). Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif tidak terlepas dari bagaimana seorang guru mengelola perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, tidak dapat di pungkiri bahwa dalam suatu kelas terdapat beberapa karakter dan kecerdasan siswa yang berbeda, dengan terdapatnya perbedaan - perbedaan tersebut maka akan berpengaruh kepada proses belajar mengajar di dalam kelas. Manajemen kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri namun terkait dengan beberapa faktor. Permasalahan siswa merupakan masalah yang terkait langsung. Dalam hal ini, karena manajemen kelas yang dilakukan guru tidak lain untuk meningkatkan semangat belajar siswa. Keakraban guru dengan siswa, tingginya kerja sama tercipta dalam bentuk interaksi. Adanya interaksi itu tentu saja bergantung pada pendekatan yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya. Pendekatan bisa dilakukan dengan berbagai cara yaitu memberikan perhatian, ancaman maupun kebebasan dll. Hal itu bisa dilakukan selama pelajaran berlangsung agar kondisi kelas yang tenang dapat diciptakan. Selain pendekatan yang harus dilakukan oleh guru dalam menjaga kondisi kelas agar tetap optimal juga diperlukan adanya ketrampilan-keterampilan dalam mengelolanya dan prinsip-prinsip mamanajemen yang harus dipahami oleh setiap guru yang bersangkutan. Kemampuan dalam mengelola perilaku siswa merupakan kemampuan yang sangat penting untuk 4 dimiliki oleh seorang guru karena terdapat hubungan yang erat antara prestasi belajar siswa dengan perilakunya di sekolah prestasi yang rendah sering menimbulkan perilaku buruk karena siswa merasa kecewa dengan sekolahnya. Proses belajar mengajar erat sekali kaitannya dengan lingkungan atau suasana dimana proses itu berlangsung. Meskipun prestasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya belajar, fasilitas yang tersedia, pengaruh iklim kelas masih sangat penting. Hal ini beralasan karena ketika para peserta didik belajar di ruangan kelas, lingkungan kelas, baik itu lingkungan fisik maupun non fisik kemungkinan mendukung mereka atau bahkan malah menganggu mereka. Lingkungan fisik kelas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Lingkungan kelas yang kondusif, nyaman, menyenangkan, dan bersih berperan penting dalam menunjang keefektifan belajar. Lingkungan juga akan mempengaruhi mental siswa secara psikologis dalam menerima informasi dari guru di dalam kelas. Bahkan, dengan menggunakan strategi dan metode tertentu siswa dapat menerima stimulus dengan memanfaatkan lingkungan sekitar kelas untuk membantu siswa mengejar prestasinya. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam sebuah kelas untuk memberikan kenyamanan kepada siswa, penyusunan meja dan kursi yang memungkinkan siswa dapat menerima akses informasi dengan baik dan merata, memberikan aroma tertentu yang membangkitkan semangat dan 5 motivasi, menata bunga dan berbagai tumbuhan yang akan memberikan kesegaran, memilih warna cat dinding yang sesuai dengan kebutuhan untuk sebuah ruang kelas, memasang poster-poster yang berisikan kalimat-kalimat afirmasi yang memungkinkan siswa termotivasi untuk menjadi seseorang yang berprestasi di kelasnya
beberapa hal pengaruh lingkungan fisik kelas terhadap hasil belajar yaitu
(1) pengaturan ruangan, kursi dan meja,
(2) pemasangan poster ikon,
( 3) pemasangan poster afirmasi
( 4) pemberian dan penataan bunga di kelas.
(Darmasyah, 2010: 34). Lingkungan kelas memberikan dampak yang cukup baik terhadap hasil belajar. Karena itu, faktor-faktor yang mendukung terciptanya kondisi fisik yang kondusif terhadap pelaksanaan pembelajaran perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi para guru yang terlibat langsung.
B. Kebijakan Penanganan Masalah Dalam Kelas
Belajar adalah salah satu aktifitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar. Belajar di peroleh melalui lembaga pendidikan formal dan non formal. Salah satu lembaga pendidikan formal yg umum di indonesia yaitu sekolah dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan belajar mengajar tersebut terjadi di dalam kelas. Tujuan belajar siswa sendiri adalah untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual.
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
1. Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompo
2. Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
3. Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
C. macam macam permasalahn dalam manajemen kelas
Ada dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1) Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a) Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
b) Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
c) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d) Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
2) Masalah Kelompok :
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b. Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu. Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung. Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja. Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g.Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
D. Solusi dalam mengatasi masalah manajemen kelas
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
a. Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement(untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
b. Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1. Perintah dan larangan
2. Penekanan dan penguasaan
3. Penghukuman dan pengancaman
4. Pendekatan perintah dan larangan
c. Pendekatan Permisif
Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Tindakan pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
2. Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekalI
3. Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4. Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
5. Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
6. Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
d. Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan
Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok;
Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Arikunto dalam Sulistyorini, 2006.Manajemen Pendidikan Islam . (Surabaya:eLKAF,)
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.Jakarta: Rineka Cipta.
H.Syafruddin nurdin, Adriantoni. 2019 .Profesi Keguruan. PT Raja. Depok: Rajawali pers.
Suasana sekolah pada umumnya dan suasana kelas pada khususnya merupakan modal penting bagi jernihnya pikiran untuk mengikuti pelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan suatu keadaaan yang menyenangkan demi meningkatkan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan pelajaran, untuk mengatasinya dibutuhkan manajemen kelas yaitu penanganan yang baik agar dalam kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Kelas merupakan suatu tempat anak belajar untuk mendapatkan ilmu, berinteraksi dengan teman serta pembentukan pribadi yang baik. Kegiatan belajar siswa yang berada di sekolah diharapkan harus intens untuk berada di kelas. Dalam lingkup kelas terdiri dari siswa yang dapat ditinjau dari cara belajar mereka, karakter siswa, hubungan sosial, kedisiplinan, tanggung jawab dalam proses belajar mengajar.
Guru sebagai pengelola kelas, dalam perannya, guru hendaknya mampu mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di organisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan - kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Salah satu manajemen kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya kepada 2 guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatannya sendiri, sebagai manajer, guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil optimal. Menurut Popi Sopiatin (2010: 48). Ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif adalah sebagai berikut: 1. memulai pelajaran tepat waktu
2. Menata Tempat duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antara format dan jam pelajaran
3. Mengatasi gangguan dari luar
4. Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas dan dapat di laksanakan dengan konsisten
5. Peralihan yang mulus antar segmen pelajaran
6. KSiswa yang berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung 7 7. pemberian pekerjaan rumah
8. Mempertahankan momentum selama pelajaran
9. Downtime, kelebihan waktu yang dimiliki oleh siswa pada saat melakukan tugas - tugas dalam proses belajar mengajar.
10. Mengakhiri pelajaran Suasana kelas yang kondusif dapat menghasilkan pembelajaran yang sebaik mungkin.
Hasil belajar yang baik akan membantu mengembangkan motivasi belajar. Keadaan motivasi belajar yang baik mendorong siswa untuk menerima pelajaran dengan baik, selain itu dapat mengembangkan 3 inisiatif (belajar sendiri). Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif tidak terlepas dari bagaimana seorang guru mengelola perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, tidak dapat di pungkiri bahwa dalam suatu kelas terdapat beberapa karakter dan kecerdasan siswa yang berbeda, dengan terdapatnya perbedaan - perbedaan tersebut maka akan berpengaruh kepada proses belajar mengajar di dalam kelas. Manajemen kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri namun terkait dengan beberapa faktor. Permasalahan siswa merupakan masalah yang terkait langsung. Dalam hal ini, karena manajemen kelas yang dilakukan guru tidak lain untuk meningkatkan semangat belajar siswa. Keakraban guru dengan siswa, tingginya kerja sama tercipta dalam bentuk interaksi. Adanya interaksi itu tentu saja bergantung pada pendekatan yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya. Pendekatan bisa dilakukan dengan berbagai cara yaitu memberikan perhatian, ancaman maupun kebebasan dll. Hal itu bisa dilakukan selama pelajaran berlangsung agar kondisi kelas yang tenang dapat diciptakan. Selain pendekatan yang harus dilakukan oleh guru dalam menjaga kondisi kelas agar tetap optimal juga diperlukan adanya ketrampilan-keterampilan dalam mengelolanya dan prinsip-prinsip mamanajemen yang harus dipahami oleh setiap guru yang bersangkutan. Kemampuan dalam mengelola perilaku siswa merupakan kemampuan yang sangat penting untuk 4 dimiliki oleh seorang guru karena terdapat hubungan yang erat antara prestasi belajar siswa dengan perilakunya di sekolah prestasi yang rendah sering menimbulkan perilaku buruk karena siswa merasa kecewa dengan sekolahnya. Proses belajar mengajar erat sekali kaitannya dengan lingkungan atau suasana dimana proses itu berlangsung. Meskipun prestasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya belajar, fasilitas yang tersedia, pengaruh iklim kelas masih sangat penting. Hal ini beralasan karena ketika para peserta didik belajar di ruangan kelas, lingkungan kelas, baik itu lingkungan fisik maupun non fisik kemungkinan mendukung mereka atau bahkan malah menganggu mereka. Lingkungan fisik kelas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Lingkungan kelas yang kondusif, nyaman, menyenangkan, dan bersih berperan penting dalam menunjang keefektifan belajar. Lingkungan juga akan mempengaruhi mental siswa secara psikologis dalam menerima informasi dari guru di dalam kelas. Bahkan, dengan menggunakan strategi dan metode tertentu siswa dapat menerima stimulus dengan memanfaatkan lingkungan sekitar kelas untuk membantu siswa mengejar prestasinya. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam sebuah kelas untuk memberikan kenyamanan kepada siswa, penyusunan meja dan kursi yang memungkinkan siswa dapat menerima akses informasi dengan baik dan merata, memberikan aroma tertentu yang membangkitkan semangat dan 5 motivasi, menata bunga dan berbagai tumbuhan yang akan memberikan kesegaran, memilih warna cat dinding yang sesuai dengan kebutuhan untuk sebuah ruang kelas, memasang poster-poster yang berisikan kalimat-kalimat afirmasi yang memungkinkan siswa termotivasi untuk menjadi seseorang yang berprestasi di kelasnya
beberapa hal pengaruh lingkungan fisik kelas terhadap hasil belajar yaitu
(1) pengaturan ruangan, kursi dan meja,
(2) pemasangan poster ikon,
( 3) pemasangan poster afirmasi
( 4) pemberian dan penataan bunga di kelas.
(Darmasyah, 2010: 34). Lingkungan kelas memberikan dampak yang cukup baik terhadap hasil belajar. Karena itu, faktor-faktor yang mendukung terciptanya kondisi fisik yang kondusif terhadap pelaksanaan pembelajaran perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi para guru yang terlibat langsung.
B. Kebijakan Penanganan Masalah Dalam Kelas
Belajar adalah salah satu aktifitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar. Belajar di peroleh melalui lembaga pendidikan formal dan non formal. Salah satu lembaga pendidikan formal yg umum di indonesia yaitu sekolah dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan belajar mengajar tersebut terjadi di dalam kelas. Tujuan belajar siswa sendiri adalah untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual.
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
1. Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompo
2. Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
3. Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
C. macam macam permasalahn dalam manajemen kelas
Ada dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1) Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a) Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
b) Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
c) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d) Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
2) Masalah Kelompok :
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b. Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu. Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung. Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja. Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g.Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
D. Solusi dalam mengatasi masalah manajemen kelas
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
a. Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement(untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
b. Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1. Perintah dan larangan
2. Penekanan dan penguasaan
3. Penghukuman dan pengancaman
4. Pendekatan perintah dan larangan
c. Pendekatan Permisif
Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Tindakan pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
2. Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekalI
3. Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4. Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
5. Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
6. Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
d. Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan
Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok;
Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Daftar Pustaka
Arikunto dalam Sulistyorini, 2006.Manajemen Pendidikan Islam . (Surabaya:eLKAF,)
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.Jakarta: Rineka Cipta.
H.Syafruddin nurdin, Adriantoni. 2019 .Profesi Keguruan. PT Raja. Depok: Rajawali pers.
Langganan:
Komentar (Atom)
Tugas 14 Konsep Dasar Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
A. Konsep Dasar Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat Secara etimologis hubungan masyarakat diterjemahkan dari perkataan bahasa Inggris “...
-
Tahapan Penanggulangan Disiplin Kelas A. Tindakan Preventif (Pencegahan) Preventif secara etimologi berasal dari bahasa latin p...
-
A. Latar belakang MASALAH PADA Manajemen Kelas Suasana sekolah pada umumnya dan suasana kelas pada khususnya merupakan modal penting ...
-
PRINSIP - PRINSP DISIPLIN KELAS A. Pengertian Disiplin Kelas Disiplin merupakan istilah yang sudah memasyarakat diberbagai instan...